‘Cimplung’ Si Manis dari Banyumas

Alam tanpa diminta memberikan segala macam yang dibutuhkan manusia. Sebab itu, tak mengherankan jika alam penuh iklas merelakan diri untuk diolah secara bijak. Hasil yang paling sederhana bisa dilihat dari segi pertanian berupa sayuran dan buah-buahan.

Aneka ragam pertanian, salah satunya adalah singkong. Makanan kaya karbohidrat ini ternyata dapat diolah beragam jenis makanan, salah satunya ‘cimplung’.  Bagi masyarakat Banyumas mungkin sudah tak asing dengan makanan tersebut. Soalnya, makanan ini memang khas Banyumas.

Awal mula mengenal makanan tesebut dikenalkan seorang sahabat asal desa Cipete, Kecamatan, Cilongok, Kabupaten Banyumas.  Waktu itu, ia masih duduk bangku sekolah SMA sederajat dan secara kebetulan satu kost. Sebagai teman kost yang baik, ia  akan penuh suka rela membawa makanan bernama cimplung sebagai oleh-oleh dari kampung halaman.

Rasa Cimplung
Bagi yang belum pernah mencoba melahap makanan ini, ia akan dikejutkan dengan rasa manis yang bukan hanya ada luar singkong, tapi juga terasa akan terasa hingga ke dalam singkong. Rasa manis ini didapat dari proses pembuatan.

Dalam pembuatan, ia menjelaskan mengolah makanan ini sebenarnya begitu sangat sederhana dan tak perlu biaya yang begitu mahal. Pertama-tama siapkan beberapa buah singkong  yang telah dibersihkan dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian, sesuai selera.

Singkong yang telah disiapkan tinggal direndam dalam rebusan air nira (bahan pembuat gula merah) yang sudah mendidih agar lebih memberikan aroma sedap sebaiknya disertai daun pandan. Setelah singkong mengalami perubahan warna menjadi coklat lantaran  nira meresap ke dalam singkong tinggal diangkat.  Habis itu, barulah langsung disantap lebih mantap lagi disertai dengan minum kopi.

Pembuatan makanan ini sama  sekali tak akan merugikan proses pembuatan gula merah. Sebab, takaran air mineral lebih banyak dari pada nira dengan perbandingan 1 kg dibutuhkan 5 liter air nira. Agar lebih irit lagi, disarankan saat  merebus  nira jangan memakai kompor atau kompor gas, melainkan tungku dari bahan tanah dengan bahan bakar kayu. Dengan demikian sudah dapat dipastikan bakal lebih irit. soalnya, dalam merebus nira dibutuhkan waktu yang cukup lama, maka jika menggunakan gas akan lebih boros.

REKOMENDASI Post Penulis