Catatan Suara Hati Kahfi Pongq

Oleh Kahfi Pongq*

Jembatan Kebusukan

Kepada kalian aku bertanya, ke mana kitab Ki  Dewantara mencari suaka, sebagai singgah petuah menuju jalan sana. Bila kini kalian ajari aku membenci, sedangkan kalian rembug mencuri, kalian mahaguru manipulasi.

Kepada kalian aku bertanya, ke mana ikrar pemulia sesama hendak terpatri. Hari ini kalian mengepak kejayaan alpa menutup kemaluan. Aku hanya berujar, kalian  barbar terpapar zaman.

Kepada kalian aku bertanya, ke mana lari nasib percintaan pahlawan dengan sang pertiwi.  Kalian butuh tumbal dari yang buta dan tuli. Kalian mencekik diri, mengambil nafas dari ketulusan dan kebodohan.

Kepada kalian aku bertanya, berapa kalian punya dan ingin punyai, sebab harta si fakir hanya mampu berfikir keberadaan nasi esok hari. Aku mengintip kalian menari-nari, bertabuhkan kebohongan dan kekerasan yang sia-sia, pada pesta pemakaman mimpi-mimpi belia.

Kepada kalian aku bertanya, adakah bersiap perang, toh kalian sudah sampai meradang. Aku tahu  kalian tak pernah terang menentang, sebilah nyali itu yang hilang. Aku melihat urat-urat telanjang dari tubuh busuk yang kalian pasang sebagai malaikat maut, pada hari perpisahan jasad masa lalu.

Kepada kalian aku bertanya, waktu pasti dari sebuah dinasti yang memajukan peradaban dengan gebalau pedang. Aku melihat kebengisan yang tiada tercatat. Suara parau bersilau mata merah kalian, aku berjanji kepadanya akan membawa ke pusara, meski tanpa nama paling hina.

Sementara tersisa pula catatanku ini, tentang  kalian hai batu dari sungai purba;  ribuan mantera menghapus nama manusia kalian, sisanya tertera sebagai bangkai pinggiran jembatan. Kepada sekalian kawan, aku bertanya.

Depok,  7 September 2013

Dialamatkan kepada semangat Anti Kekerasan- Anti Pengkerdilan

Gerbang Mimpi

Kami menerima pagi seperti secangkir keringat kering, mula dari ingin yang pergi.

Kami keluarkan tawa paling segar tentang esok yang tiada, sebab para tuan membeli dasi dengan kitab suci.

Lelap bersela, ada cangkir berdasar keruh berlomba dengan sepiring sajak kelaparan, kalau saja rebah cukup menggusah susah.

Kami keluarkan canda hingga ujung beranda tentang kematian yang murah, sebab para tuan menaruh peduli berbareng mencuri.

Kami bicarakan, bahwa di sana darah telah menetap, mengakhiri jalan sang waktu.

Kami keluarkan sengguk perpisahan kepada sakit kutukan, sebab para tuan telah membuat liang bagi suara setengah matang.

Kami lupakan cangkir yang hilang bersama sepiring kata kadaluarsa yang menginginkan surga.

Kami mengingat pula sabda para orangtua bahwa dunia ada karena dosa, sedang para tuan senang berdoa agar neraka tiada.

Lantas, wahai para tuan, apa benar negeri ini tak punya kemudi?

Itulah gerbang mimpi kami semalam…

Rawamangun, September 2013

*Jurnalis

REKOMENDASI Post Penulis