‘Pelbatu’ Perkampungan Ngebatik

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar kota Jakarta? Beragam tanggapan saat mendengar kota tersebut, salah satunya mungkin adalah kota yang begitu sibuk sehingga melupakan hal-hal yang berbau seni apa lagi menjadikan seni sebagai rutunitas.

Hal itu tak berlaku bagi perkampungan Pelbatu, sebuah perkampungan di Jakarta yang didaulat sebagai daerah seni membatik. Pengakuan salah satu warga, Achmad Rudi.  Menurutnya, ia bersama hampir seluruh warga mulai membatik sejak didaulat dengan konsep kampung batik, maka seluruh warga sekitar belajar membatik.

Rudi, lelaki paruh baya yang memakai kaos oblong dan celana pendek itu sedang asyik membatik dengan cat air di pot bunga. Ada kuas yang sudah usang dan gelas berisi cat air. Tangannya mencoba membentuk gambar bunga matahari. Belum sepuluh menit, putranya yang berusia lima tahun ikut merecoki.

Ia mengaku baru berlajar membatik. “Saya baru belajar ngebatik beberapa bulan yang lalu. Saya juga belajar atas kemauan sendiri di Sanggar Setapak. Di sini semua warganya belajar dan ada yang dijual,” ujar dia yang kebetulan sedang membatik pot bunganya. Tampangnya tidak seperti seniman, tidak terlihat lihai juga.
Pria 46 tahun yang berprofesi sebagai satpam di kawasan Jalan Rasuna Said Kuningan ini mengaku tak banyak gerai yang menjual hasil kerajinan warga. Rudi menghitung hanya ada sekitar tiga gerai saja. “Itu pun di Rukun Tangga kami (Rt 14) ada dua, dan di Palbatu 3 ada satu gerai.”

Tidak jauh dari rumah Rudi, di gang sempit Jalan Palbatu 4 Rukun Tangga 14 Rukun Warga 04 Kecamatan Menteng Dalam, ada seorang nenek yang duduk di teras. Di pagar rumahnya, terdapat tulisan, ‘Kami menjual pot batik, silahkan beli. ”Ayo, boleh dibeli, murah kok harganya, yang besar Rp 50 ribu saja,” ujar Erlina Mazzini atau biasa disapa Omah Uban.

Omah Uban masih bersemangat berjualan pot batik di teras depan rumahnya. Ia bercerita, setahun yang lalu, ketika konsep kampung batik masih gencar-gencarnya, hampir semua rumah membuka gerai. “Tapi sekarang tinggal tiga, termasuk saya,” ujarnya.

Setiap harinya, semua anak kecil yang ada di lingkungan rumah tersebut selalu belajar membatik. Waktunya pun beragam. “Ada yang sore, pagi, atau terserah mereka. Tapi mereka sekarang sedang ujian dan sudah pintar-pintar juga,” celotehnya.

Di gang sempit itu, rumah penduduknya padat. Antara tembok satu rumah dengan rumah lainnya berhimpitan. Namun kampung itu memiliki keunikan tersendiri. Di setiap dinding atau pagar rumah, pot bunga dan jalanan dicat dengan motif batik.

Kira-kira sepuluh meter dari gerai Omah Uban, di belokan pertama ada petunjuk bertuliskan Sanggar Setapak. Tembok dan jalanannya berwarna warni. Pas di ujung gang, tampak pendopo berbambu. Di sanalah Sanggar Setapak berada.

Pendopo dan halaman sanggar luasnya tidak seberapa namun cukup memenuhi sekitar 20an orang. Pepohonan yang rindang serta alas lahan yang nyaman membuat siapa pun betah belajar di sana. Di depan sanggar, ada rumah kecil tempat pembina sanggar tinggal. Namanya Ade Santoso.

“Saya bangun sanggar atas ajakan dari para penggagas Kampung Batik Palbatu. Mereka ada empat orang. Di wilayah ini ada dua sanggar, yang di depan Sanggar Cantingku baru dua bulan dan kami yang sudah ada hampir setahun,” ujar lulusan manajemen Teknik Informatika Universitas Gunadarma Jakarta.

Di sanggar inilah, menurut Ade, seluruh warga Rt 14 mulai tergerak belajar membatik. Serta memproduksinya hingga sekarang. “Saya senang mulai dari bapak-bapak, ibu, hingga anak kecilnya sudah bisa membatik sekarang ini,” ujarnya.

Dulunya, Ade bercerita sejak sepuluh tahun yang lalu wilayah Kampung Palbatu rentan dengan pengedar serta pemakai dari narkotika. Sehingga banyak remajanya yang dipenjara dan meninggal dunia. “Jadinya, khususnya saya ingin potong generasi itu. Lalu penggagas kampung batik ini merembuk untuk memberdayakan warga supaya lebih kreatif.”

Ide ini berawal pada 2009 lalu dari Ismoyo W. Bimo, Budi Haryanto Damono, Iwan Darmawan dan Safri. Ismoyo W. Bimo atau biasa disapa Bimo berkeinginan membuat kampung batik sama halnya dengan Kampung Batik Laweyan di Solo. Lalu, ia membuat titik-titik daerah yang bersinggungan langsung dengan sejarah batik di Betawi. Di antaranya Karet Kuningan, Setiabudi, Slipi, Palmerah, Tanah Abang, dan Bendungan Hilir.

“Lalu tahun 2010, saya bertemu dengan kawan di Palbatu dan memutuskan mengambil tempatnya di sana. Karena dulu di wilayah tersebut pernah ada produksi batik. Mereka para pengrajin dari daerah juga, itu kira-kira tahun 1980an. Di wilayah Benhil juga ada satu gang namanya Gang Batik. Tak jauh dari Gedung Koperasi Batik Indonesia atau GKBIM,” ujar Bimo .

Tahun 2011, para penggagas dengan warga membuat acara ‘Indahnya Nusantara’ yang menghadirkan 20 pengrajin dari daerah. Bulan kemarin pun, lanjut Bimo, mereka mengadakan acara yang sama pada 5 hingga 6 Mei namun diikuti dengan lebih banyak pengrajin yaitu 27 orang. Mulai dari Sumatera Barat, Jambi, Jayapura, dan lain-lain.

Ia juga mengakui warga di Kampung Palbatu belum bisa memproduksi baju, kain, tas batik, dan seperti produksi lainnya. “Kami baru bisa pot dengan motif batik dan saputangan batik saja,” ujarnya.

Kampung ini mendapatkan dua kali penghargaan dari Museum Rekor Indonesia yaitu dua tahun lalu dengan predikat jalan terpanjang yang dicat motif batik yaitu 1.339 meter. Kedua, tahun ini lantaran sekitar 100 rumah warga dindingnya dicat dengan motif batik. Rumah cat batik ini disepakati 13 RT dari 15 RT yang ada di wilayah Palbatu.

“Ke depannya saya dengan kawan-kawan juga ingin warga Kampung Palbatu memproduksi batik sendiri, bisa mandiri juga. Sehingga tahun-tahun berikutnya membuat festival dengan hasil kerajinan sendiri,” kata Bimo. (Agnes)

REKOMENDASI Post Penulis