Koalisi, Melihat Pemerintahan SBY

Kaca Spion hadir sebagai pengingat bagi pengendara agar meluang waktu sejenak saja untuk menatap ke belakang. Memang penuh optimis memandang kedepan merupakan baik dan sah, namun jangan sampai menengok ke belakang pun enggan. Akibatnya, bisa fatal,” obrolan sepertiga malam di warung kopi.

Menyakiskan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Rakornas pemantapan pemilu 2014, yang ditayangkan secara langsung oleh satu stasiun TV membuat saya menyimpan setidaknya ada dua pertanyaan.

Iya, apakah Presiden tengah merenung mengenai nasib rakyat lantaran banyak menteri malah disibukkan dengan  urusan pilpres 2014?  Ataukah ini memang bentuk kegalauan SBY jelang berakhirnya masa kekuasaan dirinya sebagai Presiden, entalah?

Bisa jadi SBY tengah bernostagia pada Pilpres 2009, saat Demokrat mendapat dukungan dari partai-partai yang ada, salah satunya adalah PKS. Namum, kondisi demikian sudah tak didapat lagi. Saat ini, tak ada satu partai yang kembali merapat ke Demokrat alias koalisi dan pada akhirnya konvensi Demokrat bisa dikatakan menuai jalan buntu.

Berbicara soal koalisi, sebagai Presiden tentunya SBY paham benar apakah koalisi dengan memberikan jabatan menteri benar-benar efektif dalam menjalankan roda pemerintahan. Mungkin pada awalnya, SBY tak akan pernah berpikir PKS akan menentang keras atas kebijakkan pemerintah perihal kenaikkan Bahan Bakar Bersubsidi (BBM).

Perlahan-lahan dan dengan sendiriya kontra PKS terhadap kebijakkan SBY menguap kemudian  hilang begitu saja, mungkin hanya sebagian saja yang masih mengingat spanduk-spanduk penolakan PKS terhadap SBY. Menteri dari partai PKS hingga kini masih tetap menjabat.

Babak baru pemerintah telah di depan mata, catatan pada lembaran demi lembaran pemerintahan SBY bakal segera berahir. Sebagai catatan penutup, apakah SBY akan menutup dengan tinta emas atau malah sebaliknya? Tapi, yang jelas publik mempunyai penilaian sendiri.

Sebagai pembuka bakal ditandai dengan Pilpres 9 Juli, kursi presiden bakal diperebutkan dua kandidat. Pasangan Prabowo Subianto- Hatta Rajasa mendapat dukungan partai lebih banyak dibandingkan dengan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Koalisi Bukan Bagi-bagi Kekuasaan?

Menyimak debat antara ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait dengan  Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon pada acara Mata Najwa, Rabu 28 Mei. Sebelum kedua politikus ini duduk saling berhadapan, baik Sirait maupun Fadli melakukan orasi kenapa memilih Jokowi atau Prabowo.

Pada kesempatan orasi, Fadli memanfaatkan waktu 60 detik dengan menyelipakan kata sindirian. Sindir-sindiran keduanya pun tak bisa dielakkan, debat kian panas saat berhembus kata koalisi.

Fadli Zon menegaskan perihal koalisi ‘Tenda Besar’ pasangan Prabowo-Hatta. “Tidak bagi-bagi menteri, tidak bagi-bagi kursi, kami  hanya membagi tugas. Indonesia itu sangat besar dan luas maka perlu bagi-bagi tugas,” ujar Fadli.

Ia pun balik menanyakan apakah Jokowi sendiri tidak koalisi. Mendapat jawaban tersebut, politikus PIDP menjawab bahwa Jokowi  bekoalisi dengan rakyat dan tidak membagi-bagi kursi, jika Jokowi ingin membagi-bagi kursi tentu sudah banyak partai politik yang akan berkoalisi dengan Jokowi, berdasarkan hasil survei menunjukkan pasangan Jokowi-JK  jauh meninggalkan pasangan Prabowo-Hatta.

Untuk lebih jelasnya silakan simak tayangan ulang Mata Najwa di youtub.

REKOMENDASI Post Penulis