Apa kabar, Masihkah Engkau Turun ke Jalan

Oleh Dede Supriyatna

Apa yang terlintas saat engkau melihat gambar tersebut, hanya sekadar bertanya? Saat itu, saya duduk menatap TV berukuran 14inch. Suara penuh lantang, tetasan darah berbaur dengan keringat. Sungguh sulit dibayangkan seandai saya disana. Otak ini masih menyimpan peristiwa tersebut, sebuah peristiwa gejolak mahasiswa meruntuhkan tembok kekuasaan Soeharto.

Waktu itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tingkat akhir. Ada rasa kagum dan lebih banyak mempertanyakan kenapa mahasiswa turun ke jalan menuntut Soeharto?
Lambat tahun peristiwa Mei 98 tak terdengar lagi dan baru terdengar saat saya mengenyam bangku kuliah. Saya mulai mengenal apa itu agen perubahan dan bertanya-tanya yang telah lama dipendam, kenapa Soeharto mesti dilengserkan?  Kata mahasiswa sebagai agen perubahan dan alasan Soeharto mesti lengser sering kali dilontarkan di warung kopi (warkop), emperan gedung fakultas, forum-forum organisasi, acara peringatan tragedy 1998 sampai turun ke jalan menuntut hukuman terhadap Soeharto dan kroninya.

Satu yang pasti, saat itu kami masih menganggap bahwa Soeharto masih berkuasa meski telah menyatakan diri mundur dari kursi Presiden. Anggapan itu muncul tak lepas dari ketidak jelasan pengadilan mengadili terhadap penguasa Orde Baru (Orba). Bahkan dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) terhadap mantan Presiden Soeharto dengan pertimbangan yang kami anggap hanya dibuat-buat.

Warkop terasa kian sepi bahkan sangat sepi. Baru sekitar 23.00 yang ada hanya ada satu dua orang. Kondisi ini sangat begitu jauh dengan beberapa tahun yang lalu. Beberapa warkop menyatakan diri tutup untuk waktu yang tak menentu.  Sepi warkop juga diikuti tak terdengar lagi nada-nada lantang para orator yang hampir setiap hari berorasi di depan gerbang masuk pintu UIN Jakarta.

Penuh tanya ke mana mereka pergi?
Soe Hok Gie seandainya engkau tak meninggal muda, apakah engkau masih yakin bertahan  membela keyakinan, rela  terasing sambil menyaksikan satu-persatu teman-teman  masuk dalam gedung pemerintahan.

Saat ini jelang bergulirnya Pilpres 2014, saya duduk sambil membaca beberapa artikel di media online. Asap rokok menembus celah-celah jendala lalu lenyap begitu saja. Kopi masih menyisakan sekali lagi sruputan.

Pertanyaan beberapa tahun silam kembali hadir, sebuah tanya yang mungkin tak butuh jawaban. Pertanyaan yang sangat konyol, begitu konyol sehingga sebenarnya terlalu naif untuk dipertanyakan.

Ada dua aksi demonstrasi mahasiswa yang tercatat dalam sejarah Indonesia, yakni 66 dan 98. Lengsernya Soekarno berganti Orba, sebuah orde yang diikuti dengan beberapa aktivis masuk dalam pemerintahan.  Catatan gerakan mahasiswa kembali terukir pada 98, Orba jatuh. Indonesia memasuki sebuah era yang disebut dengan zaman reformasi. Bagaimana dengan reformasi, siapa yang bisa menjawab?

Apakah mereka yang dulu gagah berani maju dalam barisan terdepan untuk melengserkan Soeharto.  Mereka yang menyebut dirinya sebagai aktivis atau tokoh reformasi, penentang keras KKN yang kini nasibnya berada dalam jeruji besi KPK. Mereka yang menolak keras Soeharto dan kini mengagung-agungkan Soerharto. Jika demikian, untuk apa Soerhato dilengserkan jika pada akhirnya diangkat kepermukaan, kemudian engkau sendiri yang membersihkan lumpur cacian dan menaburkan segala wewangingan?

Tak ada yang menaburkan bunga di atas makam pahlawan. Makam tetap sepi dari hingar-bingar bintang. Pahlawan bukan mereka yang merampas hak, pahlawan adalah mereka yang memperjuangkan hak. Anggapan itu yang secara spontan melekat dalam benak.
*Kelana Malam, Catatan jelang Subuh, Ciputat

REKOMENDASI Post Penulis