Boneka Balbie tanpa huruf “R”

Oleh Ef

Dengan ceria Aila terus bermain dengan boneka pemberian bapaknya setahun lalu, tanpa malu terus berbincang dengan Boneka Barbie kumelnya, mengajaknya menari, mengajaknya makan, mengajaknya ngobrol dengan bahasanya yang lugu. dan tiba-tiba Aila diam melihat Bonekanya yang tidak lagi terlihat Cantik, bahkan baju Bonekanya sudah sangat kotor tidak pernah dicuci karena tidak ada lagi gantinya

“Ibu bolehkan Aila beli Boneka Balbie balu”. dengan bahasanya yang belum sempurna Aila merengek sambil bergelantungan di bahu kanan ibunya yang bingung menjawab. Bagaimana ia dapat membelikan Boneka Barbie yang diinginkan anaknya, sementara bapaknya sudah tiga minggu lebih belum pulang dari melaut

“Ibu kok diam, kan Aila pengen beli boneka balu yang lambutnya panjang belwalna hitam” dengan polosnya Aila terus merengek, sementara ibunya masih sibuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan anaknya

“Ibu beliin Boneka Balbie balu buat Aila, Ibu beliin Boneka Balbie balu buat Aila ”. diucapkanya dengan berulang-ulang kemudian, hiks… hiks… hiks..

Aila mulai menangis, dengan gaya kekanak-kanakannya Aila meronta-ronta di dekapan ibunya yang mulai sedih dengan keadaan yang dihadapinya. Kalau saja ia dulu tidak menolak perjodohannya dengan bos kerupuk udang, dia tidak seperti ini. Setidaknya dia bisa makan dengan suami dan anaknya, pastinya dengan Kerupuk Udang produksi suaminya. tidak seperti sekarang yang hanya makan seminggu dengan suami dan sebulan hanya dengan anaknya. Ah tapi ini persoalan Cinta yang memutuskan bukan Harta, sama seperti cintanya aku dengan Aila

“Iya sayang, entar ibu berikan Boneka Barbie baru setelah bapak pulang dari Melaut, pasti bapak pulang dengan hasil tangkapan yang banyak dan bisa dijual untuk beli Boneka Barbie baru sayang, sekarang Aila jangan menangis ya, kita doakan bapak baik-baik saja dan dapat ikan banyak”. Begitu panjang lebar Ibu Aila memberikan alasan tapi tidak tahu anaknya menangkap maksudnya atau tidak kenapa ibunya tidak cepat membelikan Boneka Barbie baru, tapi setidaknya Aila tidak menangis lagi dan kembali bermain dengan boneka yang lama yang kusut rambutnya.

“Ibu Boneka Balbie ini udah kusut lambutnya, udah jelek”
Aila membuyarkan lamunan ibunya yang sibuk memikirkan bapak yang berlayar berhari-hari dilaut lepas, namun cepat kembali memperhatikan anaknya.

“Sayang, kalau rambutnya kusut harus di sisir biyar rapih lagi” kata ibunya sambil mengelus-elus rambut anaknya yang hitam panjang
“Ibu bisa ga lambut Aila biyal lapih kayak boneka balbi balu”

“Kalau mau begitu Aila harus rajin merapihkan rambut, jangan urak-urakan seperti ini” kata ibu dengan sayang sambil mengikat rambut panjang anaknya
“Bapak kapan pulang bu, kok bapak ga pulang-pulang”

“Mungkin besok atau lusa bapak pulang dengan tangkapannya sayang”
Dengan sabar menjawab pertanyaan anaknya yang sudah tidak sabar ingin mempunyai Boneka Berbie baru lengkap dengan baju-bajunya.

Dengan penuh kesadaran dan tahu diri aku yang di besarkan deri keluarga Nelayan tidak berharap lebih dengan apa yang akan di bawa bapak, karena ia tahu sekarang laut sedang Pasang dan kemungkinan tidak begitu banyak hasil tangkapannya, mungkin hanya cukup untuk membeli satu Berbie untuk anaknya dan tambahan makanan untuk tiga minggu tanpa bisa menabung.

“ Aila sekarang tidur siang dulu ya, udah jam satu biyar ayah cepet pulang”.

“Tapi ental beli Boneka Balbie balu ya, yang cantik dan yang lambutnya hitam panjang”

“Iya sayang entar kalau bapak pulang, ibu suruh langsung belikan Boneka Balbie  baru buat Aila” dengan penuh semangat ibunya terus merayu anaknya untuk tidak dan cepat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena rengekan Aila.

“Asik beli Boneka Balbie balu”. Dengan masih mengucapkan Balbie Kemudian Aila mau perintah ibu untuk tidur siang dan terlelap dengan buain mimpi Boneka Barbie
***

Keesokan hari bapaknya pulang dengan langkah berat, bukan karena membawa banyaknya ikan hasil tangkapan tapi karena Jala ikan yang di gendongnya begitu besar dan terlihat sangat berat.

“Hole bapak pulang dapat ikan banyak, hole mau beli Boneka Balbie balu” dengan berlari lincah Aila mendekap bapaknya yang baru pulang melaut dan memeluk bapaknya yang masih bau air laut, tapi wangi tubuhnya sehabis melaut sudah sangat biasa di hidung mungil Aila yang dengan eratnya memeluk tubuh bapaknya yang cepat menjatuhkan jala demi membalas pelukan anaknya yang cantik seperti Boneka, seperti Boneka Barbie kata ibunya.

“Ibu bapak pulang”. Teriak Aila yang masih dalam pelukan bapaknya
“Ibu dimana sayang”. Tanya bapaknya sambil mengelus-elus rambut panjang Aila
“Ibu lagi di kamal, mau siap-siap kepasal untuk beli Boneka Balbie balu buat Aila”. Penjelasan Aila sangat terbata-bata kerana bahagia mau di berikan Boneka Barbie baru, dan tersenyum sendiri membayangkan Boneka cantik seperti apa yang akan di belikan Ibunya

“Oh Aila mau beli Boneka baru yang seperti apa?” Tanya bapaknya sambil berjalan kecil mengimbangi anaknya yang masih sangat mungil langkahnya

“Aila mau beli Boneka Balbie yang cantik seperti Putli yang tulun dali kayangan”. Jelas Aila seperti yang didongengkan Ibu tentang kecantikan Putri Kayangan walaupun tidak tahu kecantikannya seperti apa, tapi Aila sangat bersemangat menjelaskannya

“Tapi Aila lebih cantik daripada Barbie”. Balas bapaknya
“Aila Jelek karena lambut Aila tidak serapih Balbie, Aila pengen lambutnya seperti Balbie yang panjang dan lembut”

“Kalau seperti itu Aila beli Shampo saja biyar rambut Aila bagus seperti Barbie”.
“Tidak mau Aila mau belinya Balbie bukan Shampo”. Tegas Aila yang membuat bapaknya tersenyum senang sekaligus bingung, karena hasil tangkapan sekarang tidak begitu banyak.

Sementara Ibunya hanya tersenyum di depan pintu melihat percakapan anak dan bapaknya, ingin rasanya membelikan Boneka Barbie tanpa harus anaknya mengulang-ulang keinginannya yang tidak kunjung terkabul.

Dan Aila langsung cepat menghampiri Ibunya untuk menagih janji membelikan Boneka Barbie ketika bapaknya datang

“Ibu ayo kita beli Boneka Balbie di Pasal, katanya akan belikan Aila balbie kalau bapak pulang”.

“Sebentar ya sayang, kan bapak baru pulang, bapak harus Istirahat dulu sebelum menjual Ikan tangkapannya di pasar”.

“Iya sayang bapak istirahat dulu ya, entar kalau sudah sore kita beli Boneka Barbie baru buat Aila”.
“Ga mau, beli Boneka Balbienya sekarang !!” teriak Aila kemudian menangis

Biodata  penulis bisa dilacak @ef_suma

26 Desember 2011

 

REKOMENDASI Post Penulis