#Antologi Puisi ‘Pulang’ Karya Riries Herdiana

Selingkuh

Pertautan cinta kita saling mengadu nasib, aku begitu sibuk membunuh rasa yang semakin meraja dalam dada, kita hanya menabur angin dalam gulungan badai yang menanti dipenghujung waktu, aku berserikat dengan kegelapan, aku bersekutu dengan cinta semu, hingga dunia memaki, merajam dengan kebencian!

dibalik catatan bisu akan segala cerita, sesalku terbalut cinta palsu, segenap rasa menjeritkan keresahan, aku mendamba kedamaian, aku pun merindu kasih dari Sang Maha Kuasa.
aku hanya ingin kembali  pulang dalam rengkuh cintanya, meniti hari, merajut rindu di sepanjang waktu hingga penghujung usia senja

saat cinta diam dipersimpangan, kau meradang dalam bekunya diam. Maaf sayang, aku tak dapat bersama mu lagi, kita hanya berada dalam kegelapan, kita hanya kepingan kata yang tak pernah dapat menjadi kalimat utuh. Kau dan aku hanya akan berdiam bersama ilusi, jadi biarkan kubunuh rasaku sejak saat ini..

warna senja memisahkan kita dari sebuah cinta rahasia, biarkan ku kembali bersamanya
dan biarkan ku mengenangmu sebagai rekah gairah yang kusimpan ditempat bernama entah
seperti cinta yang hilang,
dipertanyakan ketika datang

Jakarta, April’13

 

Sumi dan Usman

Kepada istriku Sumi yang berada di negri orang,

Sum, aku kangen…
kapan kira-kira kau pulang ke kampung halaman? aku kini telah sibuk bekerja, hingga ternak di kandang terlantar. banyak yang ingin kuceritakan sehubungan rumah tangga kita.
kau tahu Sum? aku begitu merindukanmu, aku enggan bertanya namun kutersiksa dengan diammu. Kau bagai bara yang tak nampak didepan mata, kau pun bagai api dalam sekam yang membakar rasa perlahan. Sum, jika kontrakmu selesai tak usah kau perpanjang, ku tak ingin kau menghilang di negri orang, sebab aku ingin kau tetap menjadi cahaya, meski pijarmu tak lagi terlihat nyata.

Sum…., aku enggan bercerita lewat dunia maya, aku ingin kau datang dan menjadi nyata
adakah kau mengerti apa yang telah terjadi?
salam sayang, Usman

Buat kang Usman,

aku tidak akan kembali pulang jika hanya untuk memberi makan ternak dikandang, kubulatkan tekad dengan kontrak yang sudah kuperpanjang. Kabar burung memberi banyak cerita dan kujadikan sebagai tanda, bahwa kau telah membagi cinta. Aku pun enggan kembali ke kampung halaman, gaji yang kukirim setiap tanggal lima tak kau gunakan untuk kepentingan kita melainkan kau pakai nikah dengan minah gadis tetangga sebelah rumah
sudahlah,

tak ada lagi cinta dan rasa antara kita, biarkan segala mimpi terperangkap dalam pekat sebuah nyata, biarkan diamku menjadi keterasingan dalam diri, biarkan pendar cahayaku redup dipenghujung waktu, dan biarkan kita terpisah takdir tak pasti. Ku bahagia meski menjadi buruh di Arab Saudi. Aku masih dapat tersenyum diantara buih sabun cuci meski berada jauh dari rengkuh ibu pertiwi. Dan aku memilih jiwa merdeka atas hidup yang tak pernah kau hargai
ceraikan aku kang….

yang tak lagi mengharapkanmu,
Sumi

Jakarta, April’13

REKOMENDASI Post Penulis