KePAL_SPI: Perlawanan Terhadap Tiga Setan

“One song one struggle” “Bermain seni bersama rakyat”526730_3594414271530_1608654100_2835523_1193782501_n
”Berilah bunga itu pada setiap orang yang kamu jumpai, dan bunga itu kan jadi api yang membakar semangatmu, sebab   semangatmu adalah semangat juang revolusi”.

“HANCURKAN BUDAYA PALSU BANGUN BUDAYA KERAKYATAN”

Tumbuh dan dibesarkan dengan musik dari masyarakat yang terpinggirkan, yakni sekolompok pengamen jalanan yang kehadiran mungkin tanpa diharapkan. Yups, dari sana sanalah KePAL_SPI (Keluarga sEni Pinggiran Anti kapitaLisasi_Serikat Pengamen Indonesia) sebuah Organisasi Serikat Pengaman Jalanan terbentuk.

269095_1823903398601_1270731357_1553929_3589724_n
Terbentuknya organisasi ini tepatnya tanggal 17 agustus 2001 di Yogjakarta dan kini bermetamorfosis menjadi SeBUMI ( Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia). kehadiran KePAL_SPI bermaksud untuk menjadikan musik sebagai alat propaganda, sebagai perlawanan terhadap tiga setan (imperialis, militeris dan sisa-sisa feodalisme).
Adapun personel KePAL_SPI 2011-tidak ada batas ( Tholeriansyah ; Gitar 1+backing vocal, Doyok Gitar 2 + backing vocal, Oteng : bass + backing vocal,Gonjes ; cuk + harmonica+ backing vocal,bambang : Trombon + keyboard+ backing vocal,

Kenapa KePAL_SPI harus lahir?

561267_2769933906326_1797349998_1686991_1924340020_n
Kehadiran KePAL_SPI tak bisa dilepaskan dari perasaan prihatin atas apa yang didengar, dilihat, dan merasakan musik dan bernyanyi sudah keluar dari jalur cerita rakyat, baik dari sisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya, tapi musik telah mengabdi terhadap kalangan pemodal.
Aroma itu memang telah dicanangkan rezim orde baru awal tahun 70an, maka tak mengherankan jika seni telah bergeser mengabdi sepenuhnya terhadap kekuasaan borjuasi. Sehingga seni telah terhegemoni kekuasaan, yang mengakibatkan hubungan seni tidak lagi harmonis dengan kepentingan rakyat. Yang ada hanyalah ekploitasi, monopoli hak hidup manusia serta cenderung menjadi elit.
Sebagaimana pertunjukan pertunjukan seni yang yang terlihat sulit dimengerti dan harganya mahal,dan jauh dari perjuangan hajat hidup orang banyak.berbeda dengan semangat revolusi 45 disamping sebagai kebebasan seniman, seni juga dipakai untuk alat untuk mobilisasi massa, sebagai alat agitasi dan propaganda dan sebagai alat pendidikan politik.

REKOMENDASI Post Penulis