Sekelumit Sejarah dan Cita Rasa Kopi di Bakoel Koffie

Apakah Anda seorang pencandu kopi? Pernah enggak nikmati secangkir kopi di kedai Bakoel Koffie? Bagi belum pernah, kedai ini patut dicoba. Soalnya, selain tempatnya didekor sedemikian asri nan tempo dulu membuat perasan nyaman dan enggak bising, kedai ini berhasil menjaga dan mempertahankan cita rasa kopi sebagai warisan leluhur, maka tak mengherankan jika rasa kopi ini tak pernah luntur dari waktu ke waktu.

Perjalanan panjang Bakoel Koffie diceritakan melalui sebuah logo seorang perempuan memakai kebaya dan memangkul bakul. Awal kisah dimulia pada 1870-an. Kala itu, ada  Kakek Besar (sebutan pendiri Bakoel Koffie) menjajakan warung nasinya di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Guna memenuhi kebutuhan akan warungnya, kakek itu selalu membeli kepada seorang perempuan yang menjajakan jualan dengan bakul (yaitu keranjang yang terbuat dari anyaman atau biasa disebut keranjang tradisional Jawa).

Pada suatu ketika, perempuan itu menawarkan biji kopi kepada Kakek Besar. Sesuatu yang tanpa disangka-sangka. Pasalnya, pada masa itu, biji kopi termasuk hal yang istimewa karena hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas, termasuk orang-orang Belanda yang tingga di Batavia. Perkebunan biji kopi dari masa Hindia Belanda mengingatkan kita akan tindak pekerjaan paksa terhadap rakyat kecil. Hingga kopi tersebut tidak bisa dinikmati oleh pribumi. Yups, itulah sekelumit sejarah dari bisnis kopi dahulu kala.
Sejak saat itu, kakek mulai mengolah biji kopi hingga menjadi secangkir minuman. Dalam pengolahannya terbilang sangat sederhana, yakni  dengan memanggang menggunakan kayu bakar, menyeduhnya, dan dihidangkan secara segar kepada pelanggan.

Warung nasinya tutup dan ia membuka kedai kopi pertama yang diberi nama Kedai Kopi Tek Sun Ho. Pada 1929, putra Tek Sun Ho mengambil alih. Ia memodifikasi dalam proses pembuatannya, dengan cara menyangrai menggunakan mesin yang diputar dan menggunakan logo perempuan bakul. Mesinnya seperti mesin pembuat kopi zaman sekarang, namun dengan alat yang sederhana.

Pada 1969, cucu-cucunya melanjutkan bisnis Kedai Kopi Tek Sun Ho. Pada 2001, anak-anaknya di generasi keempat melanjutkan bisnis kopi dan berganti nama “Bakoel Koffie.” Generasi keempat hingga kini melanjutkan bisnis ini dan masih menggunakan warisan leluhur Tek Sun Ho.

Kini, Bakoel Koffie yang berpusat di Bintaro Sektor 3, telah memiliki cabang di Jalan Cikini Raya, La Piazza Mall Kelapa Gading, Jalan Senopati Raya, dan Bintaro Sektor 7. Dengan menjaga keasliannya membuat siapa saja betah nongkrong di Bakoel Koffie.

Pencampuran Modern dengan Citarasa Tradisional
Saat ini, menu kopi di Bakoemail.google.coml Koffie mengikuti perkembangan dengan tidak hanya menjual kopi kalsik orginal, tapi juga ragam kopi campuran dengan proses pembuatan blend. Misalnya, vocado frost dan mochamo. Kala mengunjungi Bakoel Koffie, saya memesan  jenis minuman tersebut sesuai dengan rekomendasi pelayan. Dari keseluruhan menu, memang berbahasa Inggris. Itulah strategi pemasaran dan promosi dari generasi keempat Tek Sun Ho.

Sambil menunggu pesanan,  saya menebak kopi ini adalah pencampuran antara alpukat dan kopi. Ketika pesanan tiba, satu gelas besar (bukan cangkir lho!) vocado frost, berwarna hijau tiba. Hijau karena dari warna dasar alpukat itu sendiri. Prosesnya, adalah pertama biji kopi disangrai hingga halus. Alpukat yang dipotong kecil-kecil tersebut dijadikan satu dengan biji kopi yang telah disangrai lalu diblend hingga kental. Saya rasa tidak dicampurkan air di dalamnya. Untuk pemanis, digunakan sedikit air gula dan susu coklat. Cara penyajiannya, gelas besar tersebut diberikan susu coklat di dinding gelas, lalu vocado dituangkan.

Ketika diseruput pun, maka anda akan berdecak kagum. Jujur, baru di Bakoel Koffie saya merasakan pencampuran antara alpukat dan kopi yang sangat pas sekali. Pembagian rata antara kedua bahan tersebut rata sehingga rasa kopi sama kuatnya dengan alpukat. Bahkan di lidah, masih terasa ada kopi di sana. Dahsyatnya vocado frost diminum dengan dingin benar-benar enak banget! Segelas besar tersebut bisa tahan selama dua jam. Buktikan apa kata saya, yah kecuali memang anda sangat lapar sekali kala itu.

Pesanan kedua bernama mochamo. Dari contekan pelayan Bakoel Koffie, mochamo itu adalah yang seperti mochacino pada umumnya dengan tambahan krimer. Tapi, ia menegaskan bahwa biji kopi yang dihidangkan di Bakoel Koffie asli masih segar banget! Dan memang ternyata benar sekali kata pelayannya, meski mochamo dihidangkan dingin namun citarasa kopinya masih terasa segar. Rasa mochamo nggak kalah dibandingkan dengan semua kopi lainnya.

Sesuai dengan jenis citarasa kopi modern dengan proses diblend, mochamo sanggup bertahan dalam dinginnya penyajian dan rasa kopi tidak hilang hingga tetes terakhir. Untuk menarik, di atas mochamo terdapat gambar “love.” Jika anda mencoba dari seruputan pertama hingga terakhir, maka perpaduan antara biji kopi hitam dan krimer itu sama rata. Sehingga tidak ada rasa terlalu manis atau terlalu pahit. Sempurna!

Untuk cemilan, tersedia banyak kok. Sedangkan masalah wi fi, juga cepat melesat bak roket. Selama dua jam saya nongkrong di sana, pengunjung hilir mudik sekitar enam sampai sepuluh orang. Dari yang bersama pacar hingga yang bersama keluarga. Pastinya, dijual juga biji Kopi Tek Sun Ho dan bisa langsung disangrai halus. Satu bungkusnya seharga Rp 80.000,-. Tertarik? Jadi, tunggu apalagi. Anda tidak akan menyesal dengan citarasa kopi modern dan tradisional, karena biji kopi Tek Sun Ho dilestarikan hingga kini.

Alamat : Jalan Cikini Raya Raya No: 25. Jakarta Pusat. Indonesia. Telp: (021) 736 90051. Fax: (021) 736 90064. Email: tokokopi@gmail.com. Website http://www.bakoelkoffie.com

Jam Buka : Setiap hari pukul 09:00-22:00 Wib

Kisaran harga : Rp 5.000,- hingga Rp 100.000,-/ porsi

REKOMENDASI Post Penulis