Ada “Hantu” Bob Marley di Fiorentina

Ada sebuah ungkapan, jika cinta telah datang maka ia tak akan pernah mengenal status sosial, harta, dan apa saja. Dengan begitu yang ada hanya rasa bahagia meskipun harus dibayar dengan pengorbanan. Sebagaimana tertuang dalam tujuh kitab Ramayana.

Dalam kitab itu dijelaskan, Dewi Sita yang telah meninggalkan segala macam kemewahan dengan tinggal di hutan asalkan bersama Rama ternyata malah berujung tragis.  Bagaimana tidak,  Rama dengan tega mengusir Dewi Sita hanya karena mendengarkan gunjingan rakyat yang merasa sangsi dengan kesucian Dewi Sita.

Kisah dari India yang membuat sejumlah orang mempertanyakan cinta seperti demikian? Sebuah cinta tak lagi mempedulikan kemewahan saat uang menjelma menjadi kemewahan yang sulit dibendung. Siapa pula yang dapat menolak godaannya?

Pengasingan Rama di tengah-tengah hutan bersama Dewi Sita diperkuat pesan legenda musisi reggae, Bob Marley kepada anaknya Ziggy. Saat ajal kian dekat, penyanyi asal Jamaika berpesan, “Uang tak bisa membeli kehidupan.”

Entah apa membuat pemilik nama lengkap Robert Nesta Marley menyempatkan diri berpesan demikian? Bisa jadi saat kehidupan dililit dengan pesoalan identitas ras “hitam-putih” dan kemiskinan ekstrim, tapi uang tak bisa membeli kemerdekaan, kebebasan, dan juga termasuk kebahagiaan seseorang.

Kini hantu Bob Marley tetap menyelimuti penjuru dunia, Rastafarianism (Sebutan untuk penggemar Raggae) menjadi pelajaran tentang kehidupan penuh damai tanpa ras, uang bukan segala termasuk untuk membeli kebahagian.

Mungkin saja terhadap Juan Guillermo Cuadrado Bello atau orang mengenalnya Juan Cuadrado. Pemain sepakbola berambut gimbal dengan warna kulit tak berbeda jauh dengan Bob Marley ini bermain di salah satu klub Italia, yakni Fiorentina.

Pada mulanya sebelum bergabung dengan La Viola panggilan Fiorentina, tak ada satu orang mengenalnya mungkin bisa jadi tak mempedulikannya. Ia menjadi mesin menakutkan bagi musuh-musuhnya.

Tak hanya untuk klubnya, Ia juga membuktikan dengan membawa negeranya ke babak perempat final Piala Dunia 2014. Berkat penampilan ciamiknya membuat sejumlah klub elit Eropa kian kepincut.

Paling tidak sudah ada klub sekelas Manchester United, Bayern Muenchen, PSG, Manchester City,  Barcelona, dan tak ketinggal Chelsea menyatakan diri tertarik memboyongnya. Bermodal uang, mereka saling sikut untuk menjadi terdepan dalam mendapatkan pemain asal Kolombia. Sungguh menggiurkan, bukan? Bermain di klub dengan segudang prestasi dan tak kalah penting adalah uang.

Sekali lagi, mereka melupakan roh Marley yang terus menghantui para pengikutnya, tentang uang tak bisa membeli kebahagian. Tak ada yang mengetahuinya, sebesar apa harga yang mesti digelontorkan saat ia mengenakan seragam ungu. Setidaknya begitulah alasan kuat saat Cuadrado menolak pinangan Bercelona, MU, dan klub elit lainnya. “Aku bahagia bertahan di Fiorentina untuk musim berikutnya. Aku merasa nyaman di sini,” katanya.

Kata bahagia itu juga membuat dia kesenangan materi dengan dibuktikan pada goresan selembar kontrak. Cukup hanya dengan tanda tangan membuat klub-klub elit Eropa geleng-geleng kepala.

Namun, cerita Juan Cuadrado belum benar-benar berakhir. Masih banyak yang perlu ditunggu, paling tidak menunggu apakah akan tersaji kembali kisah drama cinta Dewi Sita dengan Rama.  Apakah si gimbal dari Kolombia tetap dengan rasa bahagianya dan menolak segala tawaran yang menggiurkan?  Atau jangan-jangan Fiorentina sendiri tergiur untuk menjualnya guna mendapatkan uang yang begitu fantastis.

REKOMENDASI Post Penulis