Saat Sikap MK Malah Dipertayakan

(Ilustrasi: bujangga.com)

Tentu masih ingat dengan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Sebuah film di luar dugaan ternyata mampu membuat sebagian orang bertanya-tanya sehingga memaksa untuk terus menunggu kelanjutan Cinta (Dian Sastrowardoyo) dengan Rangga (Nicholas Saputra) dalam tempo tak jelas meskipun bulan purnama telah berulangkali menampakkan diri. Mungkin begitulah cinta, kehadiran penuh romantis nan abstrak.

Namun, seabstrak-abstraknya kisah kasmaran anak SMA pada film tersebut tak semestinya menular pada hubungan antara Presiden dengan Mahkamah Konstitusi (MK).  Apa sebab, jelas keduanya bukan lagi anak SMA yang tengah dilanda mabok kasmaran.

Jika saja Cinta menolak tawaran cinta dari Borne (Fabian Ricardo) atau juga  Mamet (Dennis Adhiswara) sangatlah wajar. Mungkin Cinta merasa paras yang hanya pantas dimiliki Rangga. Atau bisa juga cinta memang unik, begitulah cinta tak bisa dipaksakan.

Tapi ini yang ditolak adalah Presiden dan seorang Jokowi tak sedang merayu MK. Dan apakah MK mempunyai hak untuk menolak? Cukup aneh, tapi begitu adanya. Oleh sebab itu, jadi tak mengherankan jika efek samping dari penolakkan MK malah  membuat publik bertanya-tanya Ada Apa dengan MK? Iya, publik dibuat terkejut dengan sikap MK yang secara terang-terangan menolak keberadaan dua nama yang diajukan pemerintah sebagai anggota Panitia Seleksi (Pansel) Hakim Konstitusi, yaitu pakar hukum Refly Harun dan Todung Mulya Lubis, sebagaimana diberitakan sejumlah media online.

MK mengukapkan alasan perihal kedua nama tesebut. Dikatakan para Hakim MK, dua pakar hukum tersebut dapat mempengaruhi proses seleksi yang diharapkan dapat berjalan secara objektif. Pasalnya, kedua nama tersebut merupakan ahli hukum yang sering beracara di MK. Keduanya beracara baik sewaktu mengajukan persidangan, maupun sebagai pengacara yang membela kliennya di MK.

Tetap saja alasan MK tak cukup membuat publik hilang rasa gatal untuk mengitik sebanyak 140 karekter di akun twitter. Beragam kicaun mengenai MK saling berterbangan di jejaring sosial dari mempertanyakan dan ada juga yang mendukung langkah MK. Salah satunya, Hasyim Asy’ari . “Waduh, ada apa? “@kompascom: Hakim Konstitusi Tolak Refly Harun dan Todung sebagai Anggota Pansel Hakim MK http://kom.ps/AFodO7, ” kicau pemilik akun ‏@hsym_asyari.
Hal senada juga dikicaukan Abdul Aziz, melalui akun  ‏@azizppri ia mempertanyakan kenapa MK menolak dua nama tersebut. “Kenapa?® Hakim Konstitusi Tolak Refly Harun dan Todung sebagai Anggota Pansel Hakim MK,”kicaunya.

Lantas bagimana kisah kelanjutan dari pertanyaan publik terhadap MK, engga mungkin juga adegan kelanjutanya akan ditutup layaknya AADC versi LINE yang hanya ditanyangkan selama 30 menit usai publik menunggu 12 tahun lamannya. Sebuah penutup yang tak lebih dari iklan.

REKOMENDASI Post Penulis