Drama Sendok Rp 1 Miliar di tengah Kisah Pilu PRT

Menyimak kelakukan para pejabat serasa menonton film sinetron yang menampilkan kesenangan di atas penderitaan. Kesejangan sosial dipertontonkan dengan cerita pesta pora saat orang miskin merasa kelaparan. Ironis kejadian tersebut ternyata terdapat di layar kaca, tapi juga benar-benar terdapat dalam kehidupan.

Bagaimana tidak, saat warga di Banjarnegara menjerit histeris saat mengetahui sanak keluarga telah dipanggil dan bangunan selama bertahun-tahun tertibun longsor. Tepat pada hari itu juga, salah satu stasiun tv menayang secara langsung proses persalinan penyanyi Ashanty Siddik, istri anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Anang Hermansyah sepanjang 3,5 jam.

Lagi, publik dikejutkan dengan adanya kabar sejumlah media online (kompas.com) perihal soal sendok makan dengan harga nyaris Rp 1 miliar, yakni sebesar Rp 965 juta. Sebuah harga yang cukup fantastis ini diajukan Sekretariat Daerah (Sekda) Pemkot Makassar dalam pengadaan barang sebagaimana tertuang dalam draf penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2015.

Seperti merasa belum puas dengan harga yang diajukan, Pemkot Makassar mengajukan anggaran untuk penyediaan makanan dan minuman pada Sekda Kota Makassar senilai Rp 11,8 miliar. Biaya itu terdiri dari makanan dan minuman harian pegawai senilai Rp 3,1 miliar, belanja makanan dan minuman rapat Rp 3,3 miliar, serta belanja makanan dan minuman tamu Rp 5,4 miliar.

Oh, sungguh menyenangkan setiap tahun mendapatkan uang sebesar itu  tanpa memeras keringat di terik matahari. Sebuah kehidupan yang berbanding terbalik dengan rakyat Indonesia, terutama bagi mereka yang masih berada di angka garis kemiskinan, yang hanya untuk mendapatkan Rp 400 ribu mesti mengantri berjam-jam sampai berdesak-desak di bawah panas matahari. Maka tak mengherankan jika salah satu dari mereka jatuh pinsan atau meninggal dunia.

Kisah tak kalah miris menimpa pembantu rumah tangga (PRT) terjadi di negeri sendiri. Perjuangan keras mereka untuk medapatkan iming-iming gaji kisaran Rp 1 juta selama satu bulan hanya omong kosong. Bukannya gaji yang selama bertahun-tahun didapat melainkan penganiayaan  yang tak kunjung berhenti oleh sang majikan.

Iya, bagi mereka yang menyaksikan acara Indonesia lawyers club (ILC) dengan tema “Kamp Pembantaian di Tengah Kota Medan”. Pada acara disiarkan secara langsung dari Medan mengukapkan kisah pilu kehidupan tiga pekerja perempuan, yaitu Endah (55) asal Madura, Anisa Rahayu (25) asal Malang, dan Rukmaini (43) asal Demak oleh keluarga Syamsul Anwar.

Sungguh sangat sulit untuk diungkapkan bagaimana gambaran kesedihan para pembantu yang sudah habis air mata. Masing-masing mereka menceritakan gaji yang tak juga didapat dan perlakukan kasar keluarga Syamsul. Hampir setiap hari pukulan dengan benda keras mendarat disekujur tubuh. Pendaharahan di kepala hanya ditutup dengan kopi.

Tak hanya itu saja, para pembantu ini juga kerap direndam dengan keadaan perut kosong. Berhari-hari menahan lapar serta rasa dingin. Dan saat mendapatkan makanan, yang didapat dedeg (pakan ayam) dengan lauk tulang ikan gurame. Nasib lebih tragis menimpa rekan sesama pembantu, Cici.

Nasib lebih sadis menimpa Cici. Menurut mereka, Cici mengalami penyiksaan yang begitu sadis hingga menghembuskan nafas. “Cici dibunuh di depan saya. Dia dimasukkan didalam bak mandi dengan kepala dibawah dan kaki diatas. Aku bilang kenapa dibunuh kawanku dan mereka bilang membunuh itu tidak berdosa. Kalau aku macam-macam, maka aku juga akan direndam sampai mati,”

 

REKOMENDASI Post Penulis