Selamat Natal, Menyimak Kembali Pemikiran Gus Dur

Adanya perbedan pendapat merupakan hal yang sangat wajar ditemukan di Negara yang menganut demokrasi, Indonesia. Bahkan Negara menjamin kebebasan pendapat sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”.

Namun, bagaimana perbedaan pandangan malah dimaknai dengan kebebasan saling menghujat dan tak jarang ditemukan saling menuding, sebagaimana kontroversi yang selalu terjadi pada bulan penghujung bulang Desember tentang boleh tidak umat Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani.

Perbedaan pandangan para ulama mengenai boleh atau tidak seorang Muslim mengucapkan Natal. Lalu pantaskah mereka yang mengucapkan selamat Natal dengan berpegang pada sebagian ulama yang memperbolehkan disebut ‘kafir’, ‘haram,’ dan ‘murtad’.

Sebuah pernyataan yang begitu ramai digembor-gemborkan di situs-situs, sosmed dan rasanya rasanya sangat tak pantas. Bukankah akan lebih bijak jika ungkapan yang demikian tak terlalu ditonjolkan dengan saling menghargai perbedaan apalagi dalam kehidupan berbangsa, yang masih sangat rawan konflik antar golongan atau agama.

Saat ini, dua organisasi massa terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah mempersilakan umat Islam yang ingin mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan tak ada masalah seorang Muslim mengucapkan selamat Natal.

Aqil juga turut mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani yang merayakan hari besar yang jatuh setiap tanggal 25 Desember setiap tahun itu. “Selamat hari Natal kepada saudara-saudara kita umat Nasrani. Mudah-mudahan dengan Natal ini kita mendapatkan berkah dan rahmat dari Tuhan, Indonesia semakin jaya dan semakin sejahtera,” harapnya.

Begitu juga dengan Ormas Islam Muhammadiyah, pimpinan organisasi Islam tertua yang didirikan di Yogyakarta tahun 1912 Wilayah  Jawa Tengah membantah organisasinya telah mengharamkan muslim untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani.

Terlepas dari polemik mengucapkan selamat Natal, Abdurahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur . Seorang Presiden yang juga dianggap sebagai tokoh plurisme dan sukses meletakan batu demokrasi saat bangsa Indonesia mengalami masa transisi.

Semasa hidupnya, Gus Dur sempat menulis perihal hari raya umat Nasranis dengan judul ‘Harlah, Natal dan Maulid’. Sebuah artikel yang pernah dimuat di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 ini kembali diulas di salah satu media online Merdeka.com.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bagaiman Gus Dur mendefinisikan kata Natal yang mempunyai arti sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”.

Dengan demikian, maksud istilah ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Maulid sendiri, menurut Gus Dur, merupakan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi atau dalam dunia barat dikenal sebagai Saladin, dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi orang pertama kali memerintahkan umat Muslim merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Perintah ini bertujuan membakar semangat  kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade).

Dia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, dua kata (Natal dan Maulid) mempunyai makna khusus, dan tidak bisa disamakan. Dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash). Penyebabnya adalah asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang beragam. Artinya jelas, Natal dipakai orang-orang Kristiani, sedangkan maulid dipakai orang-orang Islam.

Menurut Gus Dur, Natal dalam kitab suci Alquran disebut sebagai “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

“Jika penulis (Gus Dur) merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau (Isa) dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT.”

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, “menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis (Gus Dur) menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannya bersama-sama.”

Dalam litelatur fiqih, Gus Dur mengimbuhkan, jika seorang muslim duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan ganjalan bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dianggap turut berkebaktian yang sama.

“Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.”

 

 

REKOMENDASI Post Penulis