Kicauan Akhmad Sahal Soal Perbedaan Pandangan Selamat Natal

Kamis, (25/12), Memulai hari dengan secangkir kopi sambil timeline jejering sosial bernama Twitter. Sejumlah akun mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani. Sebuah ucapan yang selalu saja menuai polemik setiap tahun.

Polemik antara boleh atau tidaknya umat Islam mengucapkan Natal kepada orang yang merayakan. Disayangkan, perdebatan perihal perbedaan pandangan dalam memandang ucapan Natal yang semestinya saling menghormati malah sebaliknya, tak jarang dijumpai kicaun yang mengagap kafir atau murtad bagi orang Islam yang mengucapkan Natal.

Padahal, menurut Ahmad Sahal melalui akun twitter @sahaL_AS, perbedaan pandangan dalam Islam telah terjadi sejak jaman Nabi masih hidup. Saat itu, Nabi berpesan agar jangan shalat ashar sebelum sampai di perkemapuangan Bani Quraidzah.

Dan apa yang terjadi, sebagian sahabat memaknai pesan Nabi secara harfiah meski waktu ashar lewat dan sebagaian memahami pesan Nabi agar secepat mungkin sampai tujuan, mereka shalat Asyar meskipun belum sampai Bani Quraidzah.

Perbedaan pandangan para sahabat ini sama-sama diterima Nabi, beliau tidak menyalahkan perbedaan pandangan yang harfiah dan tidak harfiah.
Adapun berikut ini kicauan Akhmad Sahal dalam akun @sahaL_AS

(1) Kang @maman1965, perbedaan pendapat dlm Islam tak hanya terjadi sth Nabi wafat. Bahkan pas masih ada Nabi pun terjadi.

(2) Contohnya, suatu kali Nabi memerintahkan sejumlah Sahabat untuk pergi ke perkampunga Bani Quraidzah. @maman1965

(3) Kata Nabi ke para Sahabat: kalian jangan shalat ashar sblm nyampe ke kampung Bani Quraidzah. @maman1965

(4) Sebagian Sahabat memahami perintah Nabi scr harfiah. Meski waktu ashar lewat, mrk ga shalat sblm nyampe tujuan. @maman1965

(5) Sebagian lagi memahami Nabi nyuruh cepat ke tujuan. Jd meski blm nyampe Bani Quraidzah, mrk shalat ashar sblm waktu abis. @maman1965

(6) Nah ketika tugas selesai,para Sahabat lapor ke Nabi ttg apa yg terjadi, juga ttg dua pendapat soal shalat ashar. @maman1965

(7) ternyata Nabi tidak menyalahkan keduanya. Yg harfiah dan tidak harfiah sama2 diterima oleh beliau. @maman1965

(8) Dua pandangan tsb lalu mewujud dlm dua poros pemahaman Islam: mazhab hadits (yg harfiah) dan mazhab ra’yu (rasional). @maman1965

(9). Kedua poros pemikiran Islam: literal- harfiah dan rasional- kontekstual punya akar dlm Islam. Mestinya saling menghormati. @maman1965

(10) Toh dampaknya bagi umat kan bagus kalo ada beda pendapat. Mrk bisa memilih. Ber-Islam jadi longgar, gak sumpek. @maman1965

(11) Itulah kenapa tindakan mengkafirkan/ menyesatkan pandangan lain yg beda dlm islam justru absurd. Tipe beragama ga piknik. @maman1965

(12) Al- Ghazali bilang, kalo ada pendapat yg dari 100 sisi tampak kafir, tp hanya satu sisi tetap iman, jgn dikafirkan. @maman1965

(13) kalo Imam Ghazali yg ilmunya nyegoro (seluas samudera) aja woles, kok mrk yg ilmu islamnya masih cekak pada hobi ngafirin. @maman1965

(14) Tentu kita mending meneladani Imam Ghazali yg woles, ketimbang kaum takfiri yg kemlinthi 🙂 Sekian. @maman1965

 

 

REKOMENDASI Post Penulis