Inilah Reaksi Atas Kebijakan Menteri Jonan

Peristiwa kecelakan pesawat AirAsia QZ8501, Minggu 28 Desember 2014 lalu, membuka sejumlah permasalahan dalam penerbangan. Hal ini membuat Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan sejumlah kebijakan yang cukup mengejutkan, maka tak mengherankan jika buntut dari kebijkan tersebut mengundang reaksi dari politikus, pengamat dan tak ketinggalan pengguna twitter.

Mulai dari dibekukan Air Asia Surabaya ke Singapura dan sebaliknya. Langkah tersebut diambil sabagai sanksi atas pelanggaran izin terbang yang dilakukan AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura. Dari catatan AirAsia hanya diizinkan terbang di hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu untuk rute Surabaya-Singapura. Namun pada kenyataannya, AirAsia QZ8501 terbang pada hari Minggu.

Langkah Menteri Jonan langsung direspon politikus Partai Demokrat Chandra Andi Salam. Menurutnya, seorang menteri harus menjaga lembaga, bukanya mencari kambing hitam. “Seharusnya martabat lembaga Kemenhub bisa dijaga, bukan justru pejabat Kemenhub mencari kambing hitam sebelum proses evakuasi korban selesai,” ujarnya, sebagaimana dikutip Merdeka.com

Ia juga menilai, apa yang dilakuakan Kemenhub dalam hal ini Plt. Dirjen Perhubungan Udara dengan mempermasalahkan izin terbang di tengah proses evakuasi bukan hanya tidak tepat, tapi juga bakal merusak citra bangsa Indonesia di mata internasional.

Terbaru dan tak kalah menuai kontroversi adalah kebijakan soal pembatasan tarif penerbangan murah (low cost carrier/LCC). Sebuah kebijakan yang dilandasi dengan asumsi tarif murah yang selama ini bisa dijual maskapai LCC sebagian karena mengorbankan aspek perawatan dan keselamatan penerbangan.

Mendapatkan rencana kebijakan yang akan mengatur batas bawah tarif maskapai LCC sebesar 40 persen dari tarif terendah di batas atas, sejumlah pihak langsung beraksi. Salah satunya pendapat pengamat penerbangan Arista Atmadjati mempertanyakan apa hubungan hubungan kesalamatan dengan rencana kebijakan yang bakal segera dilegalisasi itu

Menurutnya, penghapusan tiket penerbangan murah tidak menjamin keselamatan dan keamanan penumpang terpenuhi. Semua itu harus datang dari pemerintah, bukannya mengharapkan dari pihak maskapai saja.

Tak hanya pengamat, pertanyaan serupa juga dipertanyakan pengguna jejaring sosial, twitter. Melalui akun ini, sebagaian menilai tak ada hubungannya antara tarif murah tiket penerbangan dan upaya mengorbankan aspek keselamatan.

Sebagaimana dikicaukan Will ‏dengan akun @Wilson87Peace, berkicau “Emang situ YAKIN Penetapan Tarif Batas Bawah utk tiket pesawat bs menjamin Maskapai lbh mementingkan faktor keselamatan.?!”

Muhammad Zamroni, melalui akun ‏@matriphe jonan: Tarif Maskapai Murah Tak Masuk Akal. Kalo tarif kereta yang mahal bener itu masuk akal, Pak Menteri?

Begitu juga dengan pemilik akun ‏@ramandikaditya, “ @IgnasiusJonan Pak, seadainya yang jatuh kemarin itu maskapai Garuda Indonesia, apakah kebijakan tarif batas bawah akan tetap dikeluarkan?” kicaunya

REKOMENDASI Post Penulis