Persinggahan Orang Agung Itu Disebut Bantarwaru Ligung

Oleh Yusuf Azhari

Sejarah terbentuknya Bantarwaru (termasuk Ligung) tidak terlepas dari dakwah Islam Kesultanan Cirebon. Selain, adanya misi melawan penjajahan asing yang saat itu ekspansi ke wilayah Utara Jawa. Tidak ada data otentik menyebutkan kapan Bantarwaru mulai dihuni. Namun hikayat menyebutkan, tokoh yang pertama kali membuka alas menjadi Bantarwaru-Ligung adalah Buyut Cidum.
>>>>>>>

Kedatangan Buyut Cidum untuk membuka alas, lebih kurang sekitar tahun 1447 Masehi. Saat itu, Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon (paman Sunung Gunung Djati) yang merupakan murid dari Syekh Datul Kahfi atau Syekh Nur Djati, mengutus Buyut Cidum untuk membuka kawasan alas yang letaknya berdekatan dengan wilayah peperangan dengan penjajah asing. Tempat tersebut, dipersiapkan untuk persinggahan atau singgahnya para pejuang atau penggeden (baca orang Agung), bahkan menjadi tempat persembunyian. Para penggeden itu, tidak hanya dari Kesultanan Cirebon, tetapi juga dari kerajaan lainnya. Mengingat, jaman itu, Kerajaan Pakuan Padjajaran yang dipimpin Prabu Siliwangi (Ayah Pangeran Walangsungsang) masih berkuasa didataran pasundan. Sementara itu, perlawanan terhadap penjajah datang dari berbagai tempat. Sebagai contoh, peperangan dahsyat, yakni perang tegal bersih di Kedongdong, Susukan. Dengan pimpinannya masing-masing, mereka menyerang dari berbagai arah, Cirebon Indramayu dan Galunggung.

Alas yang dibuka oleh Buyut Cidum terletak di sekitar bantaran kali Cikeruh yang banyak ditumbuhi pepohonan waru. Sehingga, dari sanalah awal penyebutan nama untuk Bantarwaru. Karena tidak ada kapuk untuk dijadikan bantal, maka batang pohon waru yang dipangkas dijadikan sebagai penggantinya. Makanya, disebut bantal dari pohon waru (dilafadzkan Bantarwaru). Sementara, wilayah lainnya yang lebih cekung atau lebak, menjadi tempat persinggahan atau persembunyiannya orang-orang Agung tersebut. Sehingga, mafhum tempat itu disebut tempat orang Agung (dilafadzkan Ligung).
Jejak berupa situs atau peninggalan lainnya dari orang Agung sendiri nyaris tidak bisa ditemui sekarang. Namun begitu, terdapat sisi lain yang masih disimpan oleh penggeden. Misalnya, Syekh Maulana dari Kesultanan Cirebon, yang menyimpan ilmu kanuragannya berupa keris dan batu merah delima berbentuk kemangmang (pewujudan, mungkin khodam dari banaspati) di Pinangsraya (sekarang Buyut Raya). Konon, pusaka tersebut hanya bisa diambil oleh keturunannya. Atau, cerita Syekh Masran bin Malik juga dari Cirebon, yang diutus untuk menaklukan dan mengusir bangsa lelembut dibantaran Kali Cimanuk (wilayah Buyut Kati, basuh cilik dan basuh gede). Lelembut yang tidak bersahabat dengan manusia itu, ditaklukan untuk diusir, sebagian yang manut masih tersisa sampai sekarang. Tidak heran, sampai saat ini banyak orang dari sejumlah wilayah yang berjiarah di buyut pejaratan yang ada di Bantarwaru.

Tentang Buyut Cidum, tidak ada informasi menyebutkan nama aslinya siapa. Tetapi cidum sendiri diambil dari bahasa sunda yakni ceudem, artinya mendung atau sendu. Mengingat wilayah yang dihuni Buyut Cidum (sekarang pejaratan Buyut Cidum) begitu sepi suasananya. Ternyata, pada waktu yang sama juga, dua wilayah lainnya dibuka oleh kedua adik Buyut Cidum. Yakni Buyut Arsitem dikawasan Sumber, Jatitujuh yang berbatesan dengan Indramayu, dan Buyut Depok dikawasan Sambeng dan Cigasong, Palasah.
Seiring dibukanya pemukiman baru bernama Bantarwaru, para penduduk dari luar daerah mulai masuk. Sedikitnya, terceritakan ada enam rumpun yang menjadi cikal bakal berkembang atau menjadi nenek moyang masyarakat Bantarwaru dan Ligung. Pertama berasal dari tanah Cakrabuana, Cirebon dan Cirebon Girang. Termasuk Buyut Cidum juga berasal dari tanah Cirebon. Selain itu, rumpun Galunggung yang datang dari tanah Sunda, juga banyak migran ke Bantarwaru. Selanjutnya, berdatangan dari kawasan lainnya, seperti Indramayu, Tegal, dan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi, bisa dimafhumi kenapa penggunaan bahasa masyarakat Bantarwaru dan Ligung didominasi jawa. Namun sebagian penggunaan bahasanya juga mengadopsi sejumlah kosakata sunda.
Hadirnya banyak rumpun, juga menjadikan banyaknya buyut pejaratan. Sekiranya, terdapat tujuh yang semuanya berlokasi di Bantarwaru. Buyut pejaratan yang paling tua yakni Buyut Cidum. Namanya diambil dari nama tokoh yang membuka alas menjadi pemukiman itu. Kemudian Buyut Raya, nama terebut diambil dari nama Pinangsraya. Tidak nyata siapa orangnya, tetapi diceritakan orang Agung sakti yang pernah tinggal, lantas namanya dijadikan nama pejaratan. Jauh setelah itu, terdapat Buyut Panggih atau Buyut Kuru yang berada di Lunggandu, Dukuasih. Keberadaan Buyut Kuru sebagai sesepuh dikawasan tersebut. Terus, pejaratan Buyut Nurilah yang letaknya dibelakang Balai Desa Bantarwaru. Buyut Nurilah adalah seorang petapa dari Indramayu yang hingga akhir hayatnya dimakamkan ditempat tersebut. Adapun Buyut Kati, namanya diambil dari saudagar beras, bernama Katijah yang dimakamkan dilokasi tersebut. Sementara lainnya, terdapat Buyut Tekol dan Buyut Slamet. Intinya, penamaan buyut diambil dari masyarakat tokoh pada fase-fase tertentu di Bantarwaru.
Mengenai pemisahan kawasan sendiri, baru belakangan dilakukan menjadi dua wilayah. Pada masa Buyut Cidum dan sesudahnya hingga paling tidak masa kemerdekaan, dua kawasan tersebut masih menyatu. Namun begitu, muasal perbatasan Bantarwaru Ligung yakni kali mati (letaknya dibelakang rumah H. Maud Al-Gashi –tukang agen gas), yang sekarang kali mati itu sudah ditutup. Namun seiring waktu, dirubah perbatasannya, yakni kali Cikeruh. (*)

>>> Sumber tulisan dari wong tetua Bantarwaru

Majalengka, 02 Februari 2011

REKOMENDASI Post Penulis