Film Kantata Takwa, Kesaksian Personil ‘Kantata’

“Aku mendengar suara
Jerit mahluk yg terluka
Luka luka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya
Orang2 harus dibangunkan
Kesaksian arus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”

Rendra mKantata_Takwa_poster_film_2008engucapkan sebait puisi pasca tersadar dari mimpi buruknya. Rendra bermimpi melihat orang-orang berlarian. Mereka dikejar sekelompok orang yang mengenakan masker gas, bersepatu militer, mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api laras panjang. Kelompok manusia bermasker itu menangkap bahkan membunuh orang-orang. Itu adalah adegan pembuka film kantata takwa.

Film kantata takwa adalah film dokumenter musik Indonesia arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa. Film ini mulai digarap tahun 1991 dan dirilis tahun 2008. Film ini diputar secara premier di Indonesia mulai tanggal 26 September 2008 di Jakarta di jaringan bioskop film Indonesia Blitzmegaplex. Kemudian film ini diputar di berbagai festival internasional. Film ini diputar kembali di Kineforum selama enam hari (3,4,5, 10, 11, dan 12 Juli) untuk mengenang meninggalnya Gotot Prakosa.

Namun, menonton Kantata Takwa bukan menonton dokumentasi musik Indonesia biasa. Film ini adalah sebuah puisi kesaksian personil ‘kantata’ tentang masa represif rezim Orde Baru Soeharto. Mereka ialah Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, Setiawan Djodi, dan W.S. Rendra.

Film Kantata Takwa tergolong film dokumenter eksperimental pada jamannya. Secara umum, film menunjukan adegan teatrikal muncul silih berganti dengan adegan musikal. Film dipenuhi oleh dialog dan monolog seperti dalam sebuah pertunjukan teater, bahkan diselipi adegan pembacaan puisi. Film pun dibalut dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata Takwa dan Swami I, serta dibumbui dengan cuplikan-cuplikan konser akbar “Kantata Takwa” tahun 1991 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Latar utama terbagi di sebuah pedesaan dan pantai berpasir dengan angin menderu.

Keungulan film ini mampu merekam kesaksian personil ‘kantata’ sebagai kesaksian atas berbagai peristiwa bangsanya. Tak ayal film ini sarat kritik sosial melalui pelbagai permainan simbol. Kolompok manusia bermasker merupakan simbol dari tentara. Tindakan agresif mereka merupakan repersentasi Oder Baru itu sendiri. Hakim yang berganti topeng menandakan wajah hukum yang gemar bersalin rupa. Adanya perempuan berjilbab putih yang muncul pada tiap adegan merupakan repersentasi kelompok Islam.

Kesaksian ini berusaha dibungkam, seperti pembungkaman terhadap kelompok yang kritis di zaman Oder Baru. Diakhir film, personel “Kantata” dieksekusi satu persatu oleh pasukan bermasker. Film diakhiri dengan perlawanan orang-orang desa melawan pasukan bermasker dan hancurnya pasukan bermasker, bak jatuhnya rezim Orde baru ditangan gerakan reformasi. Film pun ditutup dengan alunan lagu “Kesaksian”. (Citra)

REKOMENDASI Post Penulis