Kantata Takwa dan Film Dokumenter Musik Era 2000an

Rendra : “Kamu, Iwan, Jockie, Djody, dan saya selalu berbicara mengenai perbaikan kesejateraan, perbaikan keadilan. Artinya meningkatkan idup yang sekuler. Tetapi perjuangan yg sekuler ini berdasarkan keendak manusia. Kita ini perlu kontrol agar aspirasi kita sesuai dengan kehendak Allah.”

Iwan: “aku si tidak apa-apa, asal jangan terjebak dakwah, Mas..”
Djody :”maksudnya bukan dakwah begitu, Wan. Ini malah semacam koreksi kepada diri kita sendiri. Pembersihan, penjernian.”

Percakapan dilakukan Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, Jockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djody. Mereka mendiskusikan konsep musik Kantata Takwa. Perbincangan menegaskan bahwa cantata takwa punya ekspresi bermusiknya sendiri. Ekspresi yang unik, bukan tiruan dan bukan repetisi dari tradisi yang suda ada.

Percakapan tersebut terekam dalam film Kantata Takwa. Film kantata takwa adalah film dokumenter muksikal. Film ini disutradarai Eros Djarot dan Gotot Prakosa. Film digarap tahun 1991 dan dirilis tahun 2008. Ini merupakan waktu produksi terpanjang bagi sebuah film dokumenter musik.

Kantata takwa hanya satu dari sekian film dokumenter musikal yang muncul pasca tahun 2000. Sejak pertengahan dekade 2000-an, film dokumenter bertema musik mulai menjamur di Indonesia. Film-film ini umumnya membicarakan perjalanan karir pelaku musik. Beberapa film documenter music, antara lain: Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya Rock Together (Kamerad Edmond, 2011), Marching Menuju Maut (Faesal Rizal, 2013), Berdansa Bersama Shaggydog (Tedjo Baskoro, 2013), dll.

Film Kemarin, Hari Ini, dan Selamanya Rock Together menceritakan perjalanan sejarah Superglad. Mulai dari era Waiting Room hingga konser tunggal yang terlaksana pada 2011 di Bulungan, Jakarta. Film Marching Menuju Maut merupakan dokumentasi The Brandals dari era The Motives (nama yang digunakan sebelum The Brandals di mana Edo Wallad menjabat sebagai vokalis). Sedangkan film Berdansa Bersama Shaggydog berbicara soal sejarah eksistensi Shaggydog dan kegiatan sehari-hari para personel band.

Dokumentasi personalitas pelaku musik juga tak luput dari film Tantata Takwa. Film ini mempelihatkan tafsiran personal mereka mengenai musik, kehidupan, dan takwa. “Musik adalah refleksi dari alam pikiran saya yang menerawang jauh. Kehidupan suatu kenyataan yang selalu membatasi diri saya dan takwa suatu kekuatan yang gaib yg selalu menyadarkan aku dari mimpi buruk dan kotor,” ujar Jockie Suryoprayogo. Sedangkan Iwan fals mengatakan semuanya dalam ucapan singkat, “musik, kehidupan, takwa, dan saya semua buat Allah.”

Namun, perbedaan film Kantata Takwa dari film sejenisnya ialah kepiawaian menyerap kesaksian para personil ‘kantata takwa’ terhadap kondisi sosial bangsa. Sehingga film tak cuma merekam personalitas group, tetapi kolektivitas nasip masyarakat. Film ini secara khusus mengkritik sistem pemerintahan Orde Baru Indonesia yang represif dan secara umum mengusung kemanusian. Isu-isu tersebut disampaikan secara tersirat, melalui permainan simbol-simbol yang sarat makna. Maka tak heran jika majalah Rolingstone menobatkan film Kantata Takwa sebagai film dokumenter musik terbaik pertama dari 10 film dokumenter. (Citra)

REKOMENDASI Post Penulis