Film dalam kacamata Joko Anwar

“Film adalah realitas ciptaan film maker. Jadi biarlah film berbicara jujur dan natural!”

Begitulah visi Joko Anwar mengenai film. Ia melihat film sebagai realitas yang diceritakan oleh pembuat film. Oleh karena itu, dia berpesan agar realitas tersebut dengan jujur dan natural. Film seharusnya tidak menggurui penonton, tapi membebaskan penonton. Banyak pembuat film yang terperangkap dengan anggapan film bagus harus mendidik atau memiliki pesan moral.

Bagi Joko Anwar sebuah film tak perlu dilabeli dengan berbagai jargon-jargon pesan moral. Menurutnya, film sebagai bagian dari karya seni pada hakikatnya melihat persoalan kemanusian. “Film itu karya seni. Karya seni hakikatnya adalah membuka pikiran orang. Jangan pernah membuat film dengan pesan moral. Pesan moral bukan membuka pikiran orang, tapi memaksa orang sesuai pikiran kita,” ucap Joko Anwar dalam acara LA Movie Camp pada (22/8) di Gedung Usmar Ismail Jakarta.

Selain itu, Joko Anwar juga mempunyai pandangan mengenai perbedaaan dua kutup film. Selama ini film seolah dibagi menjadi dua kutup, kutup film idealis dan kutup film komersil. Joko tak pernah mengkotak-kotakan antara film idealis dan film komersil. Laki-laki yang akrab disapa bang Jo ini berujar, “idealisme sesunggunya adalah bentuk paling sempurna dari film yang kita inginkan.”

Bagi sutradara A Copy of My Main ini tak ada pembuat film yang akan menyangka filmnya laris atau tidak laris. Begitupula tak ada pembuat film yang menyangka filmnya dipuji atau dicela kritikus. Setiap pembuat film selalu ingin karyanya bisa ditonton orang sebanyak-banyaknya, walaupun segmen penonton bisa ditentukan sejak awal. (Citra)

REKOMENDASI Post Penulis