Ngelancong Curug Cigamea, Wisata Alam

bulanIMG_0756

AngkringanWarta.com,- Akhirnya kami tiba juga di curug Cigamea sebelum matahari terbit. Setidaknya ada dua alasan mengapa kami sengaja memilih perjalanan pada malan hari dari Ciputat, Minggu dini hari (30/8), yakni mengejar saat –saat bulan tergantikan matahari dan yang terpenting adalah terhindar dari kemacetan.

Berbicara soal kemacetan sendiri, hal tersebut sudah bukan rahasia lagi jika pada hari libur jalur puncak atau curug Cigamea terjadi kemacetan. Pasalnya, dua kawasan tersebut menjadi wisata alam pilihan warga Jakarta dan sekitarnya.

Terbanyang jika jarak tempuh yang semestinya bisa ditempuh hanya sekitar 3 jam dengan mengendarai sepeda motor, maka jika sudah macet yang berbicara jarak tempuh pun pastinya bakal lebih lama.jalan1IMG_0802

Baiklah agar terkesan lebih fokus membahas soal ngelancong curug Cigamea. Curug ini sendiri merupakan salah satu tempat yang bisa Anda nikmati selain curug-curug lainnya terdapat di Kawasan Gunung Salak Endah atau banyak disebut sebagai Gunung Bunder, tepatnya Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Yups, kami memilih curug ini sebagai pelepas penat lantaran tempatnya cukup indah dan paling penting paling mudah mencari kopi atau makanan sekadar pengganjal perut. Sebab, sepanjang pintu masuk gerbang Cigamea Anda akan disambut deretan warung yang bisa juga digunakan untuk tidur pulas.

Cairan hitamonyet_0805m mengalir dalam tenggorakan, nikmat kopi kian bertambah tatkala bulan bundar mulai turun. Dari atas sini, pancaran nampak indah menyinari bukit gunung Salak. Dari arah balik, matahari seakan sudah tak sabar lagi untuk keindahanya, pancaran warna yang terpancar darinya begitu menakjubkan.

Hawa dingin perlahan-lahan mulai tergantikan. Saat itu juga satu-satu orang mulai berdatangan. Menyaksikan mereka, rasanya sudah tak sabar lagi untuk segera mungkin mengikutinya. Oh curug_0967iya, untuk bisa menikmati pesona Cigamea maka Anda harus membayar 10.000,-. Selain uang, Anda juga diharuskan mengeluarkan energi. Soalnya, jarak tempuh antara gerbang dengan Cigamea mengharuskan berjalan kaki dengan menelusuri turunan dan tanjakkan anak tangga.

Anda tak perlu risau jika merasa lelah dan rasa haus menyerang, Anda dapat dengan mudah membeli minuman atau juga makanan dengan mudah. Hampir sebelah kiri jalan dipenuhi deretan warung-warung makanan. Memang untuk urusan harga, mereka menjual dengan harga yang cukup lumayan mahal dibandingkan di tempat lainnya.

air-terjunSepanjang perjalanan tersebut, kami dikejutkan dengan seoker monyet yang berlari menghampiri. Monyet itu nampak begitu meles hampir mirip kucing rumahan yang selalu mengeong berharap iba untuk makanan. Monyet itu juga seakan ingin sekali dapat menyantap isi dalam kantung pelastik.

Dan ternyata, ia tak hanya sendiri masih banyak monyet-monyet lainnya yang sengaja menghampiri setiap pengunjung

Tak jauh dari kolompokan monyet, ujung perjalanan dua air menghadang perjalanan kami. Keduanya air terjun tersebut memang berbeda, satu air terjun lebiPengunjung_0820h dekat dengan jalan masuk, dengan tebing curam seperti dinding dan didominasi dengan banyak bebatuan hitam. Kolam limpahan air yang terdapat dibawahnya tidak bisa secara puas untuk mandi.

Sementara yang satunya lagi, kebalikan dari yang pertama. Air terujun menelusuri tanah dengan di apit pepohonan. Kolam limpahanya cukup luas dan Anda bisa bebas untuk berenang. Namun, Anda juga perlu berhati-hati melebih batas yang telah diperingati.

Dan untuk kesekian kalinya, kami memesan secangkir kopi sambil menikmati keindaan alam. Pemadangan dua air terjun ini ternyata cukup memikat sejumlah pengunjug, mereka nampak bahagia dengan mengabadikannya melalu kamera seluler. (Rifki)

REKOMENDASI Post Penulis