Ngelancong Situ Gintung, Menelusuri Jejak

   1AngkringanWarta.com,-  Tunas pun pada akhirnya hadir menempati posisi daun-daun yang berguguran. Dan kini cerita baru telah hadir, sebuah kisah dimulainya musim baru sebagai kelanjutan dari berakhirnya musim gugur. Pada akhirnya pupuk harapan baru tumbuh.

Kurang lebih begitulah gambaran perihal perjalanan, akan selalu ada hari esok dengan penuh harap. Lantas apakah daun mengiring lenyap begitu saja, seperti halnya album usang lalu dibuang entah kemana? Untuk apa juga mencari-cari album tersebut jika waktu terus saja bergerak penuh paksaan.

Banyak ungkapan-ungkapan bijak, belajar dari sejarah. Dengan mempelajari sejarah maka kita tak mengulangi peristiwa yang sama. Sebab, sebodoh-bodohnya keledai adalah yang jatuh dalam lubang yang sama. Untuk itu jangan pernah melupakan sejarah.

Di antara Anda bisa jadi sepakat dengan ungkapan tersebut atau menolak secara lantang. Sebuah penolakkan penuh semangat, hari ini dan esok milik yang baru. Lagian untuk apa juga membuka kembali album lama apa lagi membuka luka lama.

Sekali lagi dalam perkara ini, Anda bebas menentukan pilihan. Tapi, sebuah kejadian baik dan buruknya tetaplah menjadi bagian dalam perjalanan, tiap langkah baru akan meninggalkan jejak –jejak apa pun itu. Termasuk Situ Gintung, sebuah bendungan yang masuk dalam kawasan Ciputat, Tangsel. gintung2

Kenangan itu hadir kembali kala aku memutuskan untu ngelancong ke Situ Gintung. Pagi-pagi benar,saat aku begitu menikmati matahari yang masih malu-malu terbit. Sambil menikmati secangkir kopi . Tiba-tiba saja pikiran membawa aku akan peristiwanya tragis jebolnya Situ GIntung (26/3/2009), yang telah menewaskan sejumlah warga sekitar.

Bisa jadi kenangan naas tersebut masih membekas terhadap sejumlah warga. Namun, hidup masih terus berlanjut dan, pelan-pelan rasa akan trauma akan tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung berakhirnya.

Hal demikian dapat terlihat dari aktivitas warga Gintung dengan menjadikan Situ bukan hanya sebagai
tempat wisata, tapi juga tak jarang menjadikanya sebagai sumber rejeki dengan cara menjaring ikan atau memancing. Ada juga yang sejumlah pedagang yang menjajakan dagangan.

Kondisinya, bendungan dibuat jauh lebih kokoh, tanggul terbuat dari beton dengan pondasi dari susuanan batu yang melandai sampai pinggiran air. Pada tengah-tengah bendungan tersebut terdapat pintu air sebagai pengatur debit air.

Diharapkan besar kemungkinan kejadian akan kesedihan tak akan pernah terulang lagi. Belajar dari pengalaman ternyata perlu juga.

Pandangan situ-gintung-5mengarah pada seorang yang tengah menajring dengan menumpangi getek. Dalam setiap lemparana jarring, tertanam kenyakian akan mendapatkan ikan. Meskipun ia tak pernah mengentahui tepat pada lemparan keberapa mendapatkan ikan.

Sebuah kenyakinan yang amat besar, seperti halnya kenyakinan bahwa badai akan berlalu atau habis gelap terbitlah terang. Namun, diperlukan juga terjalin hubungan yang terbangun antara manusia dengan alam. Mampukan manuasia dengan alam berdamai.

Bagaimana manusia memperlakukan alam. Sebagai bahan renungan akan tragedi Situ Gintung, luas Situ Gintung mengalami penyimpitan sehingga tak kuasa lagi menahan daya tampung air.  (DS)

 

REKOMENDASI Post Penulis