Semeru dan Asrama Tentara

Jelang pagi, kembali 13238900_10205072557087005_7096311180014255833_nkuteguk kopi hitam pekat diikuti hisapan dalam-dalam. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba   pikiran melayang pada Jumat 20/5 yang lalu. Sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian -kejadian pendakian Semeru.

Perlahan semuanya ternyata masih terasa benar dan ternyata sulit  melenyapkan kenangan bersama Gunung Mahemeru atau biasa disebut Semeru. Sebuah perjalanan yang mengendap dalam benak ini.

Dan satu yang mungkin tak terlewatkan, perjalanan  tanpa sebauh perencanaan alias dadakan, banyak hal yang datang tanpa disangka-sangka, terpaksa menginap di asrama tentara lantaran tukang becak salah menterjemahkan kata losmen. Tapi, lumayan ketimbang harus tidur di emperan stasiun.  Hal ini penyebab utamanya adalah stasiun yang keburu tutup.

Semeru yang mendapat julukan negeri para Dewa menjadikan magnet para pendaki, apalagi usai film 5CM. Sebuah film sutradara Rizal Mantovani. Alkisah, pendakian lima remaja yang menjalin persahabatan ke puncak  Semeru.

Saat itu, aku mendapat kiriman pesan soal pembeli tiket kereta ekonomi Jakarta-Malang. Ia kembali mengirimkan pesan, jam 10.00 WIB sudah kumpul di Stasiun Senin.

Sesampainya, dua teman orang telah menunggu, percakapan basa-basi berlangsung begitu saja sambil meluncur ke ruang tunggu. Tak lama, kereta Jayabaya telah siap mengantarkan kami ke kota yang terkenal dengan buah apel.

Kurang-lebih pukul 01.30, kereta Jayabaya mengakhiri perjalanan. Perjalanan yang berlangsung kurang lebih 13 jam ini ternyata cukup melelahkan juga. Dengan tas super gede layaknya pendaki profesional, kami melangkah menuju angkot yang siap mengantarkan kami ke tempat Pak Heri, yang berlokasi di Tumpang.

Sekilas info, Pak Heri bisa menjadi solusi jitu bagi teman-teman yang ingin mendaki gunung Semeru atau ke Bromo. Ia tak hanya menyediakan tempat penginapan dengan hidangan nasi, tapi juga dalam hal transprotasi ke Ranupani atau gerbang Semeru,  dan yang tak kalah penting ialah persoalan tetek bengek perihal ijin masuk Semeru.

Selepas adzan Dzhur mobil jeep telah siap mengantarkan kami, biaya untuk satu mobil dikIMG_4289enakan harga Rp 610.000,-. Agar lebih murah, maka tak ada pilihan selaian bergabung dengan kelompok lainnya. Pilihan itu jua bisa menjadi pilihan teman-teman lainnya, jika dalam rombongan yang jumlahnya sangat minim.

Pendakian akhrinya dimulai, dari pintu masuk Semeru sampai Ranukumbolo tak ada tanjakan atau turunan yang benar-benar serius. Sepanjang jalan terdapat beberapa pos  yang bisa dijadikan tempat melepaskan lelah dan juga pengganjal perut. Pasalnya, terdapat penjual gorengan.  IMG_4298

Ranukumbolo awal dari magnet Semeru. Kabut yang menyelimuti danau  membuat Anda lebih suka di dalam tenda ketimbang menghabiskan suasana malam. Pada esok harinya, terlihat indah matahari ditengah-tengah bukit yang mengelilinginya.  Dan alangkah baiknya, jika Ranukumbolo sebagai tempat pemulihan tenaga. Pasalnya, perjalanan selanjutnya merupakan pendakian yang sebenar-benarnya.

Untuk persiapan air dapat memanfaatkan dari danau Ranukombolo. Air di danau ini sangat jernih dan seger. Sediakan air sebanyak mungkin, ngeri kurang bisa yang nantinya dapat membahanyakan.  Pasalnya, selain perjalanan yang pastinya cukup melelahkan, juga baru bisa mendapatkan air di Kalimati.

Meninggalkan Ranukumbolo akan mengdapatkan perjalanan yang cukup terjal. Yups, dimulai sebuah bukit yang nantinya kita akan melihat sebuah pemandangan indah, sebuah padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus, biasanya disebut dengan oro-oro ombo.IMG_4299

Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara  Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.  Dari Cemoro Kandang kita akan menuju Pos Kalimati yang berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik.
Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun. Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi.
Namun sayang, rencana mencapai puncak Semeru mesti tertunda dahulu. Kecewa pastinya, tapi yak sudahlah mau diapakan lagi. Pendakian untuk sampai puncak secara mendadak ditutup lantaran terdapat dua orang yang hilang.
Kalau sudah begitu, tak ada pilihan selain balik arah atau memuaskan diri di Ranukumbolo. Untuk pilihan kami tak lain adalah memilih untuk balik. Perjalan pulang yang cukup melelahkan juga apalagi mesti buru-buru mendapatkan tiket kereta.
Cerita tentang tiket, yang cukup menguras emosi… yang penuh kekonyolan. hehehehe
(Ayodia Kelana)

 

 

REKOMENDASI Post Penulis