Curhat Bisis : Stop Berdebat

Baiklah saya akan kembali mencoba menyalurkan apa yang sendang atau pernah dialami dalam bentuk sebuah curhatan. Entahlah, apakah tulisan ini bakal berguna bagi teman-teman yang ingin atau sedang menjalankan bisnis atau usaha.

Usai membahas persolan fokus pada jalan yang telah dirancang, silakan cek catatan sebelumnya, ‘Belajar Fokus,” untuk sampai tujuan. Saya menyadari seutuhnya, perkara fokus bukanlah mudah layaknya mengembalikan telapak tangan pasti ada hambatan dan yang utama datang dalam diri.

Pada episode kali ini, ingin sedikit mengulang kembali kenangan saat pertama kali menjalankan bisnis dan sampai kini kerap terjadi ialah berdebat untuk hal-hal yang enggak jelas. Seorang teman bahkan mengatakan ketakutananya jika jooin bisnis bersama seorang teman lebih banyak debat ketimbang kerja. Baginya, bisnis itu lebih enak sendiri. Benarkah demikian?

Pada dasarnya bukan hanya persoalan perdebatan merasa paling jago sehingga melupakan tujuan awal bisnis. Tapi sebelum dilanjut,  saya ingin sedikit mengutip kutipan yang diambil pada salah satu blogger. Kutipan ini sengaja dimaksukan bukan hanya semata-mata ingin terlihat lebih keren, tapi apa yang terjadi dengan bisnis, sebuah bahan yang akan mengacam perjalanan.

“Ada sekitar 300-an ikan paus tiba-tiba mati. Penyebab kematian ikan paus tersebut tidak lain  adalah terjebaknya mereka ke sebuah teluk gara-gara memburu ikan sarden,” kutip dalam sebuah blog dokter bisnis.

Sungguh sebuah kematian yang mengenaskan hanya lantaran tergiur dengan hal-hal kecil. Paus yang mempunyai kekuatan besar terpesona dengan hal-hal yang kecil.

Dari peristiwa tewasnya ikan paus dapat memberikan gambaran apa yang terjadi dengan bisnis kalau terlalu mempeributkan hal-hal kecil. Jadi wajar jika bisnis sebelumnya sempat goyah lantaran terlalu menghabiskan waktu untuk membela hal-hal yang kecil sehingga mengesampingkan hal-hal yang prioritas.

 

Jika kembali pada pembahasan awal soal perdebatan, saya menyadari benar bahwa hal ini telah menjadi prioritas utama dibandingkan dengan prioritas utama yang sesungguhnya. Skala prioritas campur aduk antara yang lebih penting dengan yang sama sekali tak ada hubungan dengan bisnis. Maka tak mengherankan jika waktu terbuang sia-sia dan kini hanya menyisakan kenangan.

Lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa poin yang pernah menimpa perjalanan bisnis kami, di antaranya:

1. Berdebat dengan patner lantaran hal-hal sepele sehingga bisnis yang kam bangung tinggal kenangan. Semoga kejadian tersebut tak terulang lagi pada saat ini.

 

2. Pengalokasian uang yang pada tempatnya sehingga banyak hal yang lebih penting terlupakan.Misalnya, pembelian aset untuk menambah kapasitas produksi terbengkalai.

3. Lebih disibukan mempercantik perusahan agar terlihat lebih keren.

Kurang lebih ya begitulah, ada tiga poin yang sempat menimpa perjalanan awal bisnis saya bersama teman. Pada dasarnya, jika ditelisik lebih dalam sebenarnya lebih dari tiga poin yang tanpa disadari telah menjadi prioritas utama. heheh

Semoga bermanfaat.

 

REKOMENDASI Post Penulis