Jalur Mencapai Bebas Finansial (Bag 3)

Sembari sruput kopi hitam, saya kembali mencoba menyusun kata-kata perihal jalur bebas finansial yang sempat terhenti.  Tapi tunggu dulu, pada kenyataan kopi hitam yang sudah menjadi kebiasana saya saat di depan Laptop jadul belum nampak. Baiklah kalau begitu saya ngeracik terlebih dahulu saja.

Kini kopi hitam telah tersedia dan semoga saja otak ini cukup cemerlang menyusun kata-kata, harap maklum saya bukan orang yang benar-benar lihat dalam menyusun kata. Terpenting adalah tulis aja dan jika tak enak dibaca tinggal ditutup atau kalau perlu lontarkan kritikan.

Memahami dari episode sebelumnya, identifikasi aset, manajemen resiko serta perancanaan keuangan . Ketiga elemen itu yang pada akirnya memuluskan langkah uang yang mengalir benarkah untuk penambahan aset atau hanya akan menjadi liabilitas. Dan tak ketinggalan kita juga bisa mengukur kapasitas produksi dalam memenuhi permintaan pembuatan kaos sablon atau kaos bordir, maklum saya saja hanya seorang yang bergerak dalam usaha jasa pembuatan pakaian berupa kaos. Perihal tersebut dapat di lihat di www.jasa-sablon.com .

Langkah selanjutnya kira apa yak, hmmm ada ide? Pada tahap inilah yang lebih banyak menguras pikiran. Pasalnya, sampai saat ini saya sendiri masih ragu apakah telah berhasil membuat sebuah rencana keuangan sehingga uang yang mengalir dapat dipertanggungjawabkan kegunaanya jangan-jangan saya hanya akan menumpuk liabilitas.

Mengapa ragu? Sebab keinginan maupun kebutuhan terkadang menjadi bias meskipun secara pengertian jelas jauh berbeda. Tapi enggak usah terlalu dipusingkan, saya yakin teman-teman juga telah memahami apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan.

Pastinya setelah saya berhasil membuat rencana keuangan maka dengan demikian dapat diketaui kelanjutan usaha yang tenga saya geluti. Untuk selanjutnya, tinggal bagaimana saya meningkat permintaan akan jasa pembuatan kaos entah itu sablon manual maupun kaos bordir.

Mengingat itu, saya akan mengawalinya dari rencana marketing. Bagi saya pribadi langkah ini harus segera dilakukan mengingat ada tambahan mesin jahit atau alat produksi.  Sayangkan jika alat produksi ini hanya menjadi pajangan semata dan pastinya mubajir.

Loh kok dari rencana markeing bukanya sudah seharusnya sudah dibahas sejak mengawali atau kalu perlu sebelum terjun dalam usaha.  Benar jika ada yang berkata, penambaan aset berupa mesin sebagai jawaban atas permintaan yang membludak. Lalu untuk apa juga membangun rencana marketing lagi.

Perlu saya ingat, aset adalah sesuatu yang menghasilkan uang. Jika aset itu tak terpakai maka hanya akan menjadi pajangan semata. Agar aset itu menghasilkan uang maka saya  harus mendapatkan  permintaan  berupa kaos polos, kaos sablon, kaos bordiri untuk keperluan acara, kaos seragam, kaos promosi dan lain-lainnya  lebih banyak dari sebelumnya.

Untuk itu, saya juga harus berpikir ulang bagaimana atau modifikasi dari rencana marketing sebelumnya. Paling tidak saya bisa menjadikan produksi dan permintaan mesti sama-sama stabil. Adanya tambahan mesin maka sudah semestinya terdapat penambahan pesanan. Maka saya sudah pastikan membangun rencana marketing saat usaha sedang jalan.

Bagaimana rencana marketing yang bakal saya buat mengingat bisnis ini tengah berjalan. Mengnai hal tersebut, saya minta waktu sejenak untuk lebih memikirkanya. Kalau jika ada yang berkenan tolong bantu saya yak.

Dan pada kesimpulannya, rencana marketing teryata tak berhenti pada titik tertentu. Ia selalu mengalami perkembangan sesuai dengan target yang akan dibuat. Apalagi saat alat produksi telah meningkat. Bagi saya hasil produksi dan permintaan harus sama-sama stabil. Jika salah satu ada yang terjun bebas, wah bisa bahaya.

Rencana Marketing ini akan saya coba bahan secara khusus. Dan pada kata penutup, semoga ini menjadi tulisan yang bermanfaat khususnya bagi saya pribadi.

 

REKOMENDASI Post Penulis