Kopi, Ruang Publik ….

Saya begitu menikmati saat sruput kopi hitam diikuti dengan hisapan rokok. Sebagian dari kita  mungkin sependapat, kecuali jika Anda bukan bagian dari penggemar. 

Pada mulanya mungkin hanya sebatas warkop (warung kopi) biasa, yang menawarkan tak hanya sebatas kopi semata, tapi juga merelakan tempatnya sebagai tempat obrolan santai. Sekadar ngumpul mengahabiskan waktu dengan obrolan ngalor-ngidul.

Warkop menjadi sebuah tempat yang paling demokratis untuk membicarakan apa saja. Sangat dimungkinkan hal itulah yang melatar belakangi Temmy Lesanpura, mahasiswa UI yang juga Kepala Program Radio Prambors. Dialah orang yang menawari  Kasino, Nanu, dan Rudy Badil  untuk mengisi acara radio Prambors. Maka lahirlah ‘Obrolan Santai di Warung Kopi’.

September 1973. Itulah awal kelahiran Warung Kopi Prambros, yang menawarkan sentilan humor yatongkrongan-1ng lebih intelek, dengan gaya sinisme yang cerdas, melawan semua kemapanan yang ada. Manajemen Warung Kopi Prambors kelihatan serius dan meniru manajemen group lawak di luar negeri. Yaitu mencari penulis, periset, dan pemulung bahan lawakan. Salah satu staff mereka adalah Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.

Pada akhirnya Dono, Kasino dan Indro menjadi legenda lawakan Indonesia dengan Warkop DKI, dengan lagu terkenal “Ngobrol di warung kopi, Nyentil sana dan sini…..” salah satu petikan lagu yang dibawakan Warkop DKI.

Cerita mengenai warung yang menyediakan minuman berupa kopi menjadi perjalanan panjang tak berujung. Terbukti sampai saat ini masih saja digandrungi sejumlah kalangan meskipun secara tempat mengalami metamorfosis.

Kedai kopi kian menjamur bahkan keberadaanya dikemas sedemikian, semisal starbucks atau tempat-tempat kopi yang menawarkan  kopi hitam semata, banyak variasi dengan  cita rasa tinggi dengan peracik kopi disebut dengan barista.

 Apa pun itu lokasinya, setidaknya minuman bernama kopi telah berhasil menyedot perhatian sejumlah kalangan untuk berkumpul. Menjadi ruang publik dengan kopi menjadi perantara untuk orang berkumpul, entah itu sebagai pelepas penat, temu kangen dari pembicaraan apa saja mungkin bisa jadi menyangkut hal-hal yang berbau politik, bisnis, dan persoalan kehidupan.

Sebegitunya kopi, Visinema Pictures berani memproduksi film filosofi kopi .  Sebuah film yang diangkat dari buku fiksi karya Dewi Lestari yang akrab dipanggil dengan nama Dee. Pada film dapat dilihat sebuah gambaran perihal sekolompok anak muda mendatangi kedai. Bisa dikatakan kedai itu penuh dengan anak-anak muda. Sebuah gambaran film yang tak jauh-jauh  berbeda dengan kondisi sebenarya.

Kedai dengan sajian kopi tak hanya asik sebagai tempat yang asik buat tongkrogan, tapi melahirkan sebuah karya  dari Warkop DKI, Film Filosofi Kopi dan selanjutya tinggal ditunggu saja. Pastiya, kedai kopi akan selalu menjadi magnet bagi pecandu kopi, setidaknya hal itu berlaku bagi saya.

REKOMENDASI Post Penulis