Santai Saja Pak Amien, Nanti Rumah Bapak Diruwat Lagi

Angkringanwarta.com,-Menghabiskan hari tua dengan berkarya, kumpul bersama keluarga yang dicintai sambil menikmati senja. Sungguh tenang dan damai tanpa perlu mengotori pikiran dan hati dari kedengkian. Sebuah impian yang sangat sederhana yang mungkin saja dimiliki hampir setiap orang.

Namanya juga hampir pastinya tak semua orangnya berharap demikian. Buktinya, pada usainya yang menginjak 72 tahun ini, Amien Rais masih saja disibukkan mencari panggung politik, menyusun kekuatan untuk menjatuhkan, sudah layaknya sebuah pimpinan pasukan revolusiner saja. Sungguh membakar.

Setidaknya itulah gambaran saya terhadap dirinya, ia yang tiba-tiba hadir pada peristiwa pemilihan seperti saat ini jelang Pilkada DKI Jakarta. Bermodalkan gelar yang tersemat padanya, professor,  bapak reformasi, pendiri partai Amanat Nasional (PAN), mantan ketua umum Muhammadiyah, dan mungkin masih banyak lagi gelar-gelar yang belum tersebutkan.

Oh maaf, dengan begitu banyak gelar sebaiknya saya memanggil Anda dengan panggilan apa? Terus terang saya masih bingung dengan memanggil diri Anda dengan sebutan apa kalalu pun hanya nama rasanya kurang sopan.  Jika agamawan, maaf pak saya lebih menyukai orang yang bersuara penuh kedamaian.

Mungkin akan lebih tepat jika saya menyebut Anda politikus dengan demikian akan sangat wajar jika merangkap dengan embel-embel lainnya. Politikus merangkap agamawan, maka wajar dakwah yang digaungkan tak luput dari dunia perpolitikan Indonesia.

Bagaimana pak, nama tersebut masih terkesan lebih santai bukan ketimbang beberapa orang menyebut Anda sebagai Sengkuni. Sesosok yang paling bertanggungjawab dalam perang Kurusetra, perang saudara antara Pandawa dan Kurawa yang berdampak pada kehancuran pada kerajaan Hastinapura.

Oh iya, Indonesia bukan kerajaan Hastinapura. Untuk itu,  saya putusakan saja dengan menyebut Anda sebagai politikus,  apalagi sebagai politikus,  Anda telah membuktikanya. Yups, saat Anda berhasil menduduki kursi ketua MPR. Belum lagi saat Anda memainkan peranan dalam menentukan jabatan jabatan presiden pada Sidang Umum MPR tahun 1999 dan Sidang Istimewa tahun 2001, padahal perolehan suara PAN yang hanya mendapatkan 10 %. Begitu lihainya Amien Rais dalam memain peranan sehingga ia mendapat julukan sebagai king Marker oleh salah satu majalah.

Jika ia begitu perkasa bermain dalam politik pada waktu itu, lantas mengapa ia gagal menduduki kursi presiden begitu juga dengan jagoaanya. Dan yang tak kalah membingungkan ialah perolehan suara PAN yang kian terjun bebas.

Mungkin Amien Rais melupakan nongkrong di kedai kopi atau setidaknya membaca komentator di dunia maya. Mendengar atau membaca suara-suaranya yang pada akhirnya menuntukkan hasil akhir dari setiap pesta demokrasi di Indonesia.

Bagaimana suara-suara ini malah menyebut Anda sebagai sengkuni, profokator, tukang tipu lantaran sampai saat ini belum juga memenuhi nadzar jalan kaki, tukang fitnah dan masih banyak lagi yang menyebut Anda dengan nada negatif.

Jika dilihat dari 577 komentar maka hasilnya didapat hampir 99 % menyebut Anda dengan nada sumbang, komentar besar kemungkinan bakal bertambah dengan demikian maka peluang mencaci maki Anda kian besar juga.

Enggak usah tersinggung dengan cacian mereka, harap wajar saja. Anggap saja itu bagian dari sikap Anda yang juga sangat rajin menyerang bahkan cenderung sangat radikal terhadap lawan politik Anda.

Misalnya, saat Anda menyubut Basuki Cahaya purnama atau Ahok sebagai dajal atau dewa ingusan yang melawan hukum. Menurutnya, ibu kota akan hancur jika gubernur yang akrab disapa Ahok itu kembali terpilih dan memimpin selama lima tahun.

“Ahok ini songongnya menyundul langit, sombong sekali, tetapi dalam sejarah tidak ada orang sombong menang. Jadi kita sama-sama lawan. Jangan sampai dajal itu nanti menang,” kata Amien di Koja, sebagaimana dilansir di kompas.com, Minggu (18/9).

Maaf, saya rasa pengetahuan Anda perihal agama jauh melibihi saya, pastinya saya kalah jauh. Keluarga Anda adalah keluarga Muhammdiyah yang taat dan Anda juga telah menyandang sebagai ketua umum pimpinan pusat Muhammdiyah pastinya paham benar apa itu dajal.

Tolong pak Amien bersedia menjelaskan kepada siapa saja termasuk saya sendiri apa itu dajal? Besar kemungkinan apa yang saya pahami perihal dajal sangat berbeda dengan apa yang Anda sampaikan.

 

 

REKOMENDASI Post Penulis