Kaos Oblong Perihal Doktrin Kesopanan

Boleh Kaosan boleh mengekan kaos nyaman. kami sebagai salah satu pendukung teman-teman yang ingin mengekspresikan diri lewat kaos. Untuk itu, silakan teman-teman memilih warna, ukuran serta model kaos sesuai dengan kata hati tanpa merasa khawatir dianggap kurang sopan.

Berbicara perihal kaos, kaos oblong atau dalam istilah lainnya biasa disapa T-shirt  menjadi model pakaian yang bisa dikatakan paling ngetop ketimbang model lainnya. Sejumlah penyebab yang melatar belakangi kaos begitu digandrungi teruma oleh kalangan anak muda.

Paling tidak alasan yang kerap dimunculkan dari perbincangan di warung kopi adalah bentuknya yang sederhana sehingga sangat nyaman dipakai teruma ditempat santai. Alasan lainnya, kaos juga bisa sebagai wadah kreativitas dengan memberikan aplikasi sablon.

Maka tak mengherankan jika dipresentasi pemakai kaos lebih banyak ketimbang model lainnya. kecuali di tempat-tempat khusus seperti kampus, kantoran dan lembaga lainnya yang biasanya membuat peraturan berupa larangan mengenakan kaos.

Entalah apa yang menjadi penyebab larangan tersebut diberlakukan apakah cuma lantaran kesopanan semata? Sebuah peraturan yang terkesan mengada-ngada. Pasalnya, apakah sebuah kesopanan hanya dipandang dengan orang tersebut mengenakan kaos atau enggak.

Jauh sebelum itu, kaos memang sudah sejak lama dianggap sebagai model pakaian yang dinilai tidak mempunyai unsur kesopanan dan ternyata doktrin kesopanan tersebut masih melekat hingga saat ini. Oleh sebab itu, wajar jika muncul penilaian perihal kaos sebagai simbol perlawanan.

Bermula dari abad 19 sampai 20 yang mana tentara Inggris dan Amerika yang mengenakan kaos sebagai dalaman atau ketika udara saat panas.

Dan selanjutnya  pada tahun 1947. Adalah aktor yang bernama Marlon Brando. Ia tampil ke atas panggung dengan mengenakan kaos berwarna abu-abu dengan memerankan memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS.

Langkah Brando ternyata diikuti akor lainnya, James Dean dalam film Rebel Without A Cause (1995). Bernampilan mengenakan kaos teryata memberikan pengaruh yang kontroversi. Banyak dari kalangan penontong yang kagum dan tak sedikit juga yang mencibir. Bagi mereka, orang yang mengenakan kaos oblong dianggap kurang ajar alis tidak sopan.

Dari sana muncul istilah kaos oblong sebagai simbol perlawanan. Keberadaan kaos oblong semakin dicibir semakin menjadi-jadi terutama bagi kalangan anak muda. Anak-anak mudah mengagap kaos oblong sebagai simbol kebebasan.  Dan, bagi anak muda itu, kaos oblong bukan semata-mata suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari keseharian mereka.

Kian hari orang yang mengenakan kaos oblong semakin menjadi-jadi, kalangan muda berhasil mendongkrak pupoleritas kaos obolong percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula mereka meragukan prospek bisnis kaos oblong.

 

REKOMENDASI Post Penulis