Kaos Sablon Che Guevara, Levis Dekil dan Sandal Jepit ?

Kaos sablon wajah Che Guevara, celana levis kumel entah berapa lama belum bersentuhan dengan sabun dan sandal jepit  sudah sangat langka dijumpai bahkan bisa dikatakan punah di kampus. Padahal, gaya seperti ini sempat begitu populer di kalangan mahasiswa, sebagai simbol perjuangan dalam dunia aktivis.

Dunia mahasiswa yang dicap  sebagai bagian dari perubahan, mewarisi semangat gerakan akan nasib bangsa. Maka tak mengheran jika kaos bertemakan kritikan terhadap pengusa atau juga kaos sablon  tokoh-tokoh, semisal Che Guevara, Soe Hok Gie, Widji Thukul dan berapa tokoh lainnya dianggap sebagai sosok yang membawa perubahan, sesosok yang telah mengispirasi mahasiswa (aktivis).

Lantas kemana orang-orang yang bernampilan layakanya aktivis,  yang rasanya belum lengkap jika tak mengenakan kaos sablon tokoh-tokoh tersebut, celana levis,  sandal jepit dengan rambut gondrongnya.  Sebagai simbol pembrontakan.

Akh sudahlah, mungkin mereka sedang lelah dan pada akhirnya warisan akan semangat perubahan kian redup lalu mati. Generasi yang terlalu fokus mendapatkan gelar mengingat selembar ijazah lebih penting dari segala hal, minal untuk menjawab tantangan akan hari esok,  minimal dunia kerja.

Untuk itu, tak perlu juga dipertanyakan kemana kaos sablon tokoh-tokoh tersebut, celana levis, rambut gondrong dan lain-lainya. Bergaya khas layaknya aktivis yang mewakili suara  kampus, berteriak begitu lantang akan sebuah perubahan dan keadilan dengan kajian-kajian yang mendalam.

Kampus UIN Jakarta

uin-jakarta
kuliah di kampus uin Jakarta

 

Sebuah kampus yang pernah saya singgahi untuk berapa tahun lamanya, kampus dengan segudang julukkan menurut versi organisasi masing-masing. Organisasi yang secara perlahan-lahan dirasa kian redup lalu seperti hilang di atas permukaan. Akh itu mungkin hanya perasaan saya saja.

Jika pada waktu itu, setiap orang yang berkicimpung di dalamnya akan berjuang mencari generasi baru, tunas baru yang akan melanjutkan cita-cita dari organisasi tersebut, istilah lainnya adalah doktrinisasi akan  ideologi.

Mungkin gagal juga jika melihat perkembangan, UIN Jakarta sebagai salah satu kampus Islam dengan organ ekstra maupun intra,  semisal HMI, PMII, FORKOT, dan lain-lainya yang terlalu panjang jika disebut satu-persatu. HMI dengan tokoh-tokoh yang cukup terkenal sebagai pembahuruan Islam, Ahmad Wahib  dan Nurcholish Madjid. Setidaknya kedua tokoh ini begitu kental dengan HMI dan dikenal penuh kontroversi gara-gara pemikirannya.

Jadi agak sedikit heran juga,  jika malah ikut-ikutan mengatakan Ahok sebagai penista agama Islam hanya gara-gara kutipan  pidato di kepulauan seribu.

Sudahlah, kebetulan kopi hitam telah disuruput habi begitu juga rokok yang hanya menyisakan putung-putung lagian mata sudah lima watt.  Lanjut lain kali saja catatan tentang Kaos Sablon Che Guevara, Levis Dekil dan Rambut Gondrong pada blog yang nggak jelas ini. Untuk catatan juga sama nggak jelasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REKOMENDASI Post Penulis