Pasar, Kopi dan Dangdut

Ngopi di www.angkringanwarta.com

AngkringanWarta.com,-Nongkrong nggak asik tanpa kopi dan akan lebih asyik lagi sambil mendengarkan lagu dangdut. kedua hal ini begitu melekat dalam kehidupan masyarakat. Menikmati kopi hitam sambil bersendau gurau, melepas penat usai bergelut dengan rutinitas yang menjemukkan.

Kebiasan ngopi sambil ngobrol sebenarnya telah dilakukan sejak dahulu kala, bahkan masyarakat pedesaan telah mengolah sendiri biji kopi dari proses penjemuran,  sangrai hingga ditumbuk menjadi bubuk yang siap diseduh. Namun, ternyata kebiasan tersebut secara perlahan-lahan mulai bergeser. Entalah untuk desa lainya, setidaknya itu terjadi di kampung halaman saya.

Munculnya kopi kemesan seperti kapal api dan lainnya bertahap namun pasti menggeser kebiasan masyarakat yang mengolah biji kopi sendiri.  Masyarakat mulai kehilangan pohon kopi dan dipaksa menikmati kopi kemasan. Lebih parahnya lagi pabrik mulai mengatur selera dengan dihadirkan kopi sachet, masyarakat terutama saya seakan tak bisa menentukan pilihanya sesuai selera.

Jika sudah demikian, maka tak usah dipertanyakan lagi konsumen. Kehadiran kopi sachet ini ternyata telah membunuh rasa. Yups, untuk  selera saja telah ditentukan oleh pabrik, pabrik yang menentukan takaran kopi dengan gula.

Jika kamu ingin sruput kopi maka tak ada pilihan selain kopi sachet ini.  Yak sudahlah, mau dikata apa lagi. Dengan rasa terpaksa saya sruput kopi hitam sachet ini ketimbang nggak ngopi sama sekali. Pilihanya hanya dua, kamu mau terpaksa sruput kopi atau batal memesan kopi hitam. Itulah pilihan jika kamu ngopi di warung kopi.

Penuh rasa terpaksa, saya mau tidak mau menikmati kopi hitam ini.  Bagi saya diri meminum secangkir kopi ini layaknya meminum kolek. Sama sekali nggak berasa kopinya.

Lagu dangdut masih terdengar jelas, saya membanyangkan kekuatan modal memonopoli pasar, konsumen berupa para pencinta kopi dibuat tak berdaya menentukan pilihannya sendiri. Uniknya, saat menikmati kopi yang benar-benar kopi, kita mesti merogoh kocek yang lumayan. Biji kopi dengan tema nusantara mempunyai harga yang bisa kantong cekak.

Jangan kopi, kekuatan modal juga telah menjajah pada sumber kehidupan, misalnya saja air. Kita dipaksa untuk membeli air kemesanan dengan doktrin kesehatan. Untuk menenggak satu gelas plastik kemesan, kita mesti merogoh kocek yang tak seberapat, tapi bagimana kekuatan modal ini telah menciptakan pasar? Dan kita hanya kita dijadikan konsumen tanpa sebuah pilihan.

REKOMENDASI Post Penulis