Saya Suka Kuda Sekaligus Sangat Membencinya

Cukup membayangkan saja sudah bikin mangkel,  bagaimana tidak disaat saat sibuk menyusun strategi tiba-tiba muncul kuda dengan menebar teror. keselamatan raja pun teracam dan pada akhirnya mau tidak mau atau suka tidak suka bahwa tak ada pilihan selian mengorbankan ratu.

INILAH KUDA bukan benteng atau luncur, ia bisa masuk menyelinap di antara benteng, luncur dan ratu. Bukan itu saja, ia juga berdiri di antara benteng dan luncur lalu menebarkan ancaman. Langkahnya sangat sulit dihadang apalagi  ditebak dan  berhasil mengobrak-ngabrik strategi yang telah disusun sedemikian rupa, lebih dari itu  ratu yang  menjadi senjata  pamungkas akhirnya tergeletak.

Kendati demikian, tetap saja diperlukan pion untuk lebih mumuluskan langkah kuda. Langkah kuda yang kian samar tertutup dengan serangan sprodis pion-pion ini. Pion merupakan pasukan yang siap bertarung tanpa mengenal kata mundur.

Saya pun sruput kopi hitam bersama sore yang mendung, berharap senja indah kembali datang sebagaimana hari-hari yang lalu.

Tiba-tiba saya teringat sebuh film Cina  kuno, begitu kunonya sampai lupa judul dan nama pemerannya.  Sebuah film yang mengisahkan tentang seorang ahli strategi perang tengah memainkan perananya.

Ia mengatur beragam strategi dari strategi kura-kura, yakni berlindung di dalam tempurung. Dalam tempurung tersebut telah ada beragam orang ahli, ahlinya segalanya. Lalu meletakan pion-pion untuk menutupi lubang pada tempurung tersebut dan jika waktunya telah tiba, maka darilubang-lubang tersebut akan bermunculan pion yang telah siap untuk bertarung.

Ahli strategi meminta agar pion maju menyelinap ke tempat-tempa strategis untuk melancarkan serangan. Kalau perlu serangan dibuat sehari tiga kali, sudah layaknya minum obat. Berisikan tentang bahaya tentang Yahudi, Nasranis, dan komunis dan lain-lainya.

Dan saat ada yang mulai mengeluarkan kalimat mengapa? Bukanlah sebuah jawaban yang didapat melainkan caci maki dan rasanya lebih tepatnya adalah hukuman dari kamu kafir, kamu munafik, kamu bukan pribumi.

Kitab suci menjadi kita yang paling suci sehingga tak perlu lagi untuk dikaji, jika ada yang berani membedahnya maka kamu akan dinggap telah menodai agama, demo berjilit-jilit akan menghampiri siapa saja yang mulai mengeluarkan kalimat mengapa.

Jika benar begitu suci, kenapa orang tak merasa marah saat ada orang telah ketahuan korupsi kitab suci kalua perlu demo berjilit-jilit sambil mengumpat kata-kata kasar dari seluruh penghuni ragunanan dibawa-bawa kalau perlu bikin kuis berhadiah untuk siapa yang dapat memenggal.

Kebencian yang sudah tertanam bahkan mendarah daging, doktrin yang telah diserap baik oleh anak-anak. Bagaimana anak-anak ini menyanyikan lagu tentang kebencian lalu  berteriak begitu lantang mengagungkan sang maha, namun terkesan tanpa makna semuanya dirasa hampa, yang ada lebih ke umpatan benci.

Dan tiba-tiba, orang-orang diajak untuk melupakan semuanya, melupakan bagaimana doktrin yang sudah seperti minum obat dilupakan. Bagaimana mungkin semuanya menguap begitu saja. Ini soal kebencian yang mungkin berbeda dengan apa yang terjadi dagelan-dagelan sebelumnya.

Jika sebelumnya, kita heboh layaknya mencium kentut lalu pergi menguap begitu saja. Misalnya, bagaimana dengan Setya Novanto yang secara mengejutkan kembali menduduki kursi Ketua DPR, akh sudah lupakan saja soal pengunduran dirinya tepat saat sidang MKD.  Anggap saja itu hanya ingus ke luar lalu masuk lagi.
Sruput kopi hitam lagi sambil menanti senja yang benar-benar senja

REKOMENDASI Post Penulis