Tsamara Amany dan Muhammad Husnil, Ngopi Yuk

Tsamara Amany di gentanusa.com

Beberapa hari saya bertemu dengan seorang teman lama,  singkat cerita pertemuan diakhiri dengan saling tukar nomor hp. Dari awal bertemu sampai pesan-pesan yang datang, ia meminta saya untuk menulis lalu mengirimkan tulisannya.

Ini bukan hanya permintaan tapi lebih dari itu, yakni sebuah pemaksaan. Yups, saya dipaksa untuk menuliskan sesuatu tanpa tema yang jelas.

Sruput kopi hitam sambil merenung apa yang hendak ditulis, pikiran melalang menulusuri jejaring sosial, berita online, blog, dan segala hal yang berada di dunia maya. Meskipun Pilkada DKI Jakarta telah usai, namun berita tentang  dua orang yang bertarung merebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta terasa belum cukup.

Satu hal yang terlintas dalam benak saya, siapa pun dia jika sudah memutuskan sebagai salah satu pendukung  maka hal yang lumrah jika tulisan berisi tentang dukungan, sanggahan, dan lebih dari itu adalah membeberkan kelemahan lawan dengan harapan  suara.

Akh, rasanya sudah nggak mungkin penulis bakal beirbicara objektivitas jika ia berada di salah satu pihak. Pasti selalu ada cara untuk membela atau apa pun itu.  Mungkinkah orang masih berdiri di tengah-tengah?

Contoh sangat sederhana,  yakni tulisan Tsamara Amany Alatas yang dibantah Muhammad Husnil  melalui blog peribadainya.  Sanggahan atas tulisan Tsamara Amany Alatas dapat disimak di sini  . Lantas bagaimana dengan tulisan wanita cantik pendukung Ahok ini, silakan simak di sini .

Sebelum melanjutkan lebih jauh, saya mesti menjelaskan posisi saya secara pribadi bahwa saya tak mengenal keudanya terutama perempuan cantik pendukung Ahok ini, sangat istimewa bisa dekat dengan wanita cantik apalagi keturunan arab ini.

Hal ini dianggap perlu agar tidak terlalu muncul stigma bahwa saya bagian dari si anu. Tapi setelah membaca kelanjutannya, silakan saja opini tersebut muncul dan saya menantikanya.

Saya cukup memakmuli alasan mengapa Tsamara Amany Alatas  sangat begitu kecewa dengan Anies Baswaden, salah satunya adalah saat mengetahui Anies mengunjungi markas FPI.  Wajar jika Tsamara berasusmi seperti itu, dan saya mengira akan banyak orang yang berpikir demkian, kunjungan Anies ke markas FPI adalah sebagai upaya untuk mendulang suara.

Dan diakui atau tidak FPI memberikan pengaruh besar terhadap kemenangan Anies-Sandi pada pilgub DKI Jakaarta.  Bahkan pengaruhnya lebih besar ketimbang dengan tulisan-tulisan Husnil sendiri. Bagaimana gerkan FPI turun ke jalan menuntut Ahok dihukum, belum lagi doktrin soal haram hukumnya memilih non muslim lengkap dengan hal-hal yang menakutkan, terus terang saya bosan mendengarnya sudah seperti minum obat saja, sehari tiga kali.

Muhammad Husnil sebagai tim pendukung yang baik, ceramah-ceramah itulah yang saya sebut sebagai politik identitas.  Entah dengan dirimu, tapi yang jelas saat saya  membaca buku F. Budi Hardiman “Memahami Negativitas’  terasa begitu menakutkan.

Saya rasa bung Husnil sebagai pembaca yang baik tentunya menyadari benar bagaimana konflik antar golongan telah mewarnai bangsa Indonesia.   Dan konflik ini sangat mungkin kembali terjadi jika kita bukanlah lagi kita, orang-orang dihantui dengan hal yang beda.

Mungkin itu hanya ketakutan saya semata. Untuk itu, tolong berikan pencaraahnya. Oh iya,  sebelum menjawab itu semua, saya hanya ingin tahu apakah tugas Anda cukup sampai mengantarkan  Anies menduduki kursi Gubernur?

Saya tunggu kiriman tulisanya sebagai jawaban, tulisan bisa dikirim ke alamat email angkringan123@gmail.com.

Terimakasih dan selamat atas kemenangan Anies dan Sandi,

REKOMENDASI Post Penulis