Ngelancong, Tradisi Unik 8 Teko Teh Untuk Masyarakat dan Kebersamaan

Sabtu itu, saya bersamanya ngelancong (traveling)  menelusuri gan Gloaria, sebuah gang yang tak jauh dari kota Tua. Mungkin karena hari libur maka sangat wajar kawasan ini sudah dipadati orang-orang. Sepanjang jalan kami yang lalui dijumpai pelukis yang menawarkan jasa melukis wajah.

Entah pada langkah keberapa dan tanpa disadari kami memasuki kawasan Glodok, Kota Tua, Jakarta.  Kami mendapati kedai teh  Pantjoran Tea House, depan kedai tersebut terdapat meja panjang  yang di atasnya terdapat 8 teko unik berjejer lengkap dengan beberapa cangkir.

Teko yang berisikan teh sengaja dihidangkan untuk siapa saja tanpa pandang bulu, mereka dipersilakan menikmati teh sepuasnya.  Sruput teh ini semoga dapat membawa kebaikan bersama meskipun berbeda-beda.

 

Terus terang hal ini bagi saya cukup unik mengingat hal demikian termasuk langka, siapa sih jaman sekarang yang bersedia memberikan secara gratis apalagi di kota besar seperti Jakarta.  Jakarta yang dikenal apa saja serba bayar termasuk dalam hal buang air kecil.

Selain hal demikian, unik lainnya bagi saya adalah mengapa ada 8 teko.  Rasa penasaran, saya mencoba mencari jawab.   Patekoan sejatinya berasal dari kata pat, yang berarti delapan dalam bahasa Mandarin dan teko yang memiliki arti delapan teko.

Tradisi mempersilakan orang untuk meminum teh  sepuasnya ternyata telah berlangsung sejak dulu kala. Adalah Gan Djie seorang kapiten keturunan China ( Kompas). Ia sengaja menyedikan teh di depan tokonya untuk diminum para buruh kepanasan dengan harapan para buruh dapat tetap terjaga kesehatan.

 

 

 

REKOMENDASI Post Penulis