Tentang Asian Games 2018 Tak Berlaku Untuk Kaum Nyinyir

Minggu sore Jakarta sudah diguyur hujan, pawang hujan kurang ampuh mengelak kehendak kuasa. Ada rasa deg-deg dan juga rasa senang yang amat untuk sebagaian kecil masyarakat. Pasalnya, sesuai rencana bakal diselenggarakan acara sebagai tanda perhelatan Asian Games pada Minggu (2/9/2018) waktu setempat resmi ditutup.

Bagi saya acara closing Asian Games  cukup meriah dan menikmatinya sambil sruput kopi hitam kental.  Dengan berakhirnya  pesta olahraga empat tahunan se-asia ini,   menghadirkan beragam rasa kagum, haru, bahagia, idola baru, dan pemandangan yang begitu asik disimak.

Dari Jonatan Christie jadi idola baru teruma bagi kaum hawa saat Jojo panggilan akrab melakukan selebrasi melepaskan kaos usai mengalahkan pebulutangksi asal Taiwan di final bulutangkis tunggal putra. Jojo menyabet emas untuk Indonesia di Asian Games 2018.

Pokoknya Jojo adalah idola baru untuk masyarakat Indonesia, masyarakat tak mempedulikan siapa dia, asal-usul, agama dan lainnya yang berkaitan dengan SARA.

Lebih menarik untuk saya sendiri, saat tim voli putri asal Indonesia  berada di tengah lapangan dengan mengenakan pakian dan atribut yang mereka yakini, ada berjilbab berpelukan hangat, bercampur keringat dan saling tersenyum dengan berkalung salib tanpa merasa canggung, bagi mereka tak ada lagi kata saya dan kamu, adanya adalah kami mewakili Indonesia dan bagaimana caranya mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Memenangkan sebuah pertandingan jauh lebih  penting dari sekadar berdebat soal asal-usul, agama, dan lainnya.

Namun sayang, pemandangan yang begitu indah dan semestinya dapat dipetik sebagai pembelajaran bagaimana olahraga dapat menyatukan berbeda menjadi kata kami. Kami sebagai bangsa Indonesia dengan warna darah dan tulang yang sama dan terikat dalam Bhineka Tunggal Ika.

Kemeriahan pembukaan, ajang para atlet bertanding sampai penutupan masih ada saja yang kaum nyiyir. Istilah maha benar nitezen dengan segala nyinyiran. Sungguh, meraka begitu bersemangat untuk terus bersemayam selama 24 jam sepanjang berlangsungnya acara tersebut.

Istagram, Facebook, Twitter serta media sosial lainya sebagai media untuk melepaskan nyinyiran. Bagaimana kaum nyinyir ini melancarkan serangan dari pembukaan sampai penutupan. Para kaum nyinyir dimotori politikus menyebut Jokowi telah melakukan pembohongan publik dengan memakai pemeran pengganti (stuntman) saat melakukan aksi jumping motor, nurani Jokowi telah mati dengan ia memilih menonton atlet bertanding ketimbang mengunjungi gempa di Lombok, dan Jokowi adalah orang paling pintar melakukan pencitraan saat closing Asian Games, lah kok bendera cina  dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan…

Karena itu, #2019gantipresiden.

Politik selama ini membuat jurang pemisah, orang-orang diajak berdebat panjang lebar bahkan lebih dari itu bermusuhan. Pada ujungnya, memecah dua kubu antara kampret Vs cebong. Bisa jadi jika tanpa ada keduanya dunia sosial akan nampak sepi, sudah tiba saat para pendiri sosmed berterimakasi pada keduanya.

 

 

 

REKOMENDASI Post Penulis