Ngelancong, Biar Enggak Disebut Sebagai Sisifus

Oke, kapan kita kemana?

Dirimu masih kuat menahan nikmatnya kopi sambil memandang deburan ombak atau melihat awan dari ketinggian sekian….. m.dpl. Tepat, jika itu semua perlu mengorbankan waktu. Nah, bagaimana kalau pergi sekitaran Jakarta yang penting ngelancong.

teman perjalanan

Paling tidakt biar enggak sumpek, sebagaimana kata terlontardirimu, kadang kita perlu melakukan hal yang berbeda agar pikiran ini enggak terjebak dengan itu-itu saja,  biar kita enggak dikutuk seperti sisifus.

Kamu dan aku saat ini sudah sisifus, selalu saja pagi kerja dan sore pulang begitu terus mengulang.

Sisifus merupakan mitos yang berasal dari Yunani, seorang yang dikutuk untuk mendorong batu karang ke puncak gunung, namun pada akhirnya batu itu bergulir jatuh kembali. Hal itu terus saja dilakukan secara berulang-ulang kali, sebuah aktivitas yang sia-sia.

Mari kita sudahi saja bicara soal sisifus, tema kali adalah ngelancong.

Pada akhirnya, saya dan kamu memutuskan untuk melakukan perjalanan dan semoga mendapatkan cerita konyol lagi, sebagaimana perjalanan yang sudah-sudah dan cerita itu bikin senyum-senyum saat mengenangnya.

Iya, meski sekadar kenangan  dan setikanya ada bahan untuk bercerita.

Waktu ditunggu telah tiba dan untukmempersingkat cerita, saya telah berjumpa dengan dirinya. 

Ngelancong dimulai, berangkat dari stasiun Pondok Ranji, beli tiket dan saya hendak bercerita sejenak tentang KRL….. menurut saya banyak cerita konyol sebelum kereta mengalami reformasi.  Untuk hal ini, saya patut acungi jempol untuk Jonan.

suasana kereta saat ini

Jauh sebelumnya, potret dan cerita mengenai kerata begitu ragam. Cerita mengenai kereta mempunyai sejarah panjang melibihi panjang rel yang ada di Indonesia. Menurut catatan yang beredar di dunia maya, kereta pertama kali dibangun di pulau jawa dan sengaja dibangun guna mengakut tebu. Pembangunan kereta tak lepas dari kepentingan bisnis orang – orang bule.

Perlahan kereta digunakan sebagai sarana transprotasi orang, banyak orang memilih kereta dengan berbagai alasan.

Saat ini, dengan service yang diberikan kereta menjadi primadona masyarakat Indonesia apalagi jelang Lebaran.

Perjalanan kami terhenti di stasiun Tanah Abang, saya langsung bergaya layak seorang photografer profesional.  Jepret apa saja yang menurut saya menarik. Benar saja, sebuah tegoran datang dari petugas keamanan. Ia dengan sopan menayakan surat izin untuk memotret. Ini cukup mengherankan.

 

Perjalanan berlanjut ke stasiun Bogor.  kota dengan julukkan sebagai kota hujan ternyata lagi berdamai.

Suasana terang benderang ini cukup memberikan ketenangan untuk kami menelusuri tiap seluk-beluk stasiun Bogor, banyak orang berjualan termasuk orang Baduy yang menawarkan madu.

 

Penjual madu ini nampak lelah.

Berhubung perut keroncongan, kami putuskan untuk menikmati makanan khas bogor, yakni toge goreng.  Oh iya, makanan ini sebenarnya makanan khas mana, ada yang bilang katanya khas betawi. Sepengetahun saya, kuliner khas Bogor adalah soto mie.  Setelah dapat energi, kami kembali

Bagaimana hasil dari perjalanan kita, bisa dilihat di istagram @jala_rasa  sebuah hasil jepretan banyak gagal fokusnya. Oh iya, tunggu juga video dari perjalanan kita berdua. semoga dapat menghibur.

Penting dari catatan ini perjalanan.  Sampai bertemu kembali dengan jepretan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

REKOMENDASI Post Penulis